Makassar (ANTARA) - Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) Perhimpunan Dokter Neurologi Indonesia (Perdosni) 2026 tidak lagi berkutat pada upaya kuratif tetapi menekankan pada upaya preventif atau pencegahan berbagai penyakit akibat penurunan kualitas otak, utamanya penyakit stroke.
Pada pertemuan akbar yang dipusatkan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan itu mengungkap bahwa penyakit stroke menjadi kasus paling banyak pada bidang neurologi.
"Sekarang, kami menekankan bukan mengobati, tetapi mencegah. Jadi kita memanfaatkan promotif dan preventif di masyarakat sehingga kejadian-kejadian seperti stroke, demensia dan sebagainya itu kita bisa cegah dengan harapan agar otak sehat di usia tua," urai Ketua Umum Perdosni Dr Dodik Tugasworo pada temu wartawan di Makassar, Jumat.
Mengusung tema “Neurology at the Forefront: Integrating Science, Technology, and Comprehensive Care”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menjawab tantangan meningkatnya kasus stroke, gangguan nyeri kronik, epilepsi, demensia, parkinson, gangguan tidur, hingga penyakit saraf lainnya yang semakin menjadi perhatian nasional.
Menurut Dodik, penguatan upaya preventif terhadap penyakit otak sudah harus dimulai sejak dalam kandungan dan 1000 hari pertama kehidupan agar melahirkan generasi berkualitas, searah dengan Indonesia Emas 2045 dimana SDM yang berkualitas sangat penting untuk produktivitas.
"Otak sehat itu dimulai sejak dia sudah dikandung, bagaimana gizinya, bagaimana pendidikannya untuk supaya kita mencetak manusia-manusia yang seperti di Singapura produktivitasnya, meningkatkan otak sehat yang akan muncul di Indonesia Emas 2045," ujarnya.
Dia menyebut bahwa angka produktivitas masyarakat Indonesia di 2020 cukup rendah sekitar 0,50 persen dan jika diharapkan meningkat ke 0,73 persen maka salah satunya dengan meningkatkan SDM dan menjaga otak tetap sehat.
Namun demikian, banyaknya kasus stroke yang terjadi saat ini, termasuk di usia produktif dipastikan akan menjadi masalah utama dalam keluarga, bermasyarakat maupun bernegara.
Perdosni menegaskan bahwa kesehatan otak tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu klinis, tetapi sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Gangguan neurologi memiliki dampak luas terhadap produktivitas dan kualitas hidup.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemptov Sulsel Ishaq Iskandar juga menyampaikan bahwa kesehatan otak sangat penting bagi manusia sebab jika harus sehat maka manusia dinilai bisa lebih baik dalam menyelesaikan masalah, hingga mampu memperbaiki keadaan manusia tersebut.
"Indonesia Emas harus terwujud dan kita mulai dari Perdosni sebagai pelopor juga, karena penyakit yang paling banyak ini stroke. Stroke ini terjadi tentu banyak faktor, yang menyebabkan kelumpuhan gerak. Namun masih bisa dicegah," urainya.
Ketika stroke ini menimpa siapa saja, kata Ishak, maka dipastikan akan menghambat produktivitas.
Maka dari itu, PIN Perdosni 2026 diharapkan melahirkan rekomendasi strategis terkait peningkatan layanan stroke, pemanfaatan teknologi digital dalam diagnosis neurologi, pengembangan telemedicine transformasi digital, pendidikan berkelanjutan dokter, serta kolaborasi riset nasional dan internasional.