Logo Header Antaranews Makassar

BPJS Kesehatan ungkap tren peningkatan penyakit Katastropik jadi perhatian serius

Selasa, 5 Mei 2026 14:38 WIB
Image Print
Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, Asyraf Mursalina menjelaskan materi pelayanan kepada wartawan saat workhsop di Makassar, Sulawesi Selatan . ANTARA/HO-BPJS Kesehatan

Makassar (ANTARA) - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengungkap tren meningkatnya penyakit katastropik menjadi perhatian serius dalam pengelolaan anggaran pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Dominasi penyakit katastropik tersebut berdampak langsung pada meningkatnya beban pembiayaan layanan kesehatan dalam sistem JKN," ujar Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, Asyraf Mursalina di Makassar, Selasa.

Menurutnya, tren peningkatan penyakit katastropik kini menjadi perhatian serius. Sebab, penyakit seperti jantung, kanker, dan stroke kini menjadi kontributor utama pembiayaan layanan kesehatan, seiring meningkatnya kebutuhan penanganan kasus berbiaya tinggi.

Kendati demikian, kata Asyraf menjelaskan, BPJS Kesehatan tetap menjalankan peran strategis dalam pembiayaan kesehatan atau health care financing kepada masyarakat.

Hal ini untuk memastikan ketersediaan dana pelayanan serta menjamin akses layanan kesehatan yang komprehensif, mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Pengelolaan Program JKN dilaksanakan melalui mekanisme terintegrasi, mulai pengumpulan iuran, pengelolaan risiko secara kolektif, hingga layanan kesehatan secara strategis, guna memastikan pelayanan yang berkualitas, efektif, dan berkelanjutan.

Dari data BPJS Kesehatan hingga April 2026, pembiayaan katastropik telah mencapai 25 persen dari total biaya layanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu penguatan promotif dan preventif.

Untuk biaya manfaat sepanjang 2025 di bandingkan 2024 terus mengalami kenaikan seiring meningkatnya jumlah kasus penyakit kronis. Realisasi biaya manfaatnya sekitar 11 persen pada 2025, dari sebelumnya Rp44,8 triliun naik menjadi Rp50,28 triliun.

Sementara pemanfaatan layanan kesehatan melonjak tinggi sejak implementasi JKN di berlakukan. Pada 2014-2025, jumlah anggaran disalurkan sebesar Rp1.272 triliun lebih. Pada 2025, tercatat sebanyak 1,9 juta orang ke Faskes per harinya, atau naik lima kali lipat dari 2014 lalu.

"Peningkatan kesadaran masyarakat diperlukan untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai kunci utama menekan laju kasus penyakit tersebut. Upaya pencegahan juga harus menjadi fokus bersama agar beban pembiayaan dapat lebih terkendali dan keberlanjutan Program JKN tetap terjaga," tuturnya.

Sebelumnya, Asyraf menyampaikan dalam workshop bersama media bahwa penguatan kolaborasi program JKN diperlukan. Karena, media memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman publik. Mengingat, pers merupakan mitra kerja dalam menentukan keberhasilan.

"Kami memandang insan pers sebagai mitra strategis yang turut menentukan keberhasilan program JKN melalui penyampaian informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif. Sehingga, komunikasi yang terbangun tidak hanya satu arah, tetapi kolaboratif dan solutif.

Program JKN merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat melalui prinsip gotong royong, yaitu peserta yang sehat menopang peserta yang sakit, serta peserta mampu membantu peserta yang kurang mampu.


Berita selengkapnya : BPJS Kesehatan ungkap penyakit Katastropik jadi perhatian serius



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026