Menristekdikti Dorong Kampus Lahirkan Tenaga Ahli
Selasa, 11 Juli 2017 16:44 WIB
Makassar (Antara Sulsel) - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia mendorong pihak kampus untuk mencetak dan melahirkan tenaga ketja berkeahlian menengah dan tinggi untuk memenuhi berbagai program pembangunan, terutama dalam menghadapi era ASEAN Economic Community.
"Selain dalam bidang energi baru dan terbarukan, bidang transportasi terutama untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di beberapa kota besar, Indonesia juga merencanakan untuk menjadi bagian dari poros maritim dunia, khususnya di Asia Tenggara," kata Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas mewakili Menristekdikti, Dr Ir Agus Puji Prasetyono, M Eng di Makassar, Selasa.
Indonesia, kata dia, juga terus mengembangkan program-program jangka menengah dan jangka panjang dalam bidang ICT, infrastruktur, pertanian, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan obat-obatan, rekayasa nuklir, pariwisata, dan juga program-program sosial humaniora.
"Untuk itu, komunitas pendidikan tinggi, baik universitas maupun politeknik, menjadi sangat strategis di Indonesia," katanya pada Pembukaan The 4th Trilateral University Roundtable Meeting (TURM) di Universitas Hasanuddin, Makassar, hari ini.
Ia menjelaskan, di Indonesia saat ini terdapat sekitar 4.500 universitas, baik negeri maupun swasta. Terdapat 120 universitas negeri dan 160 politeknik yang ditujukan untuk mendukung dan mengembangkan perekonomian dan daya saing nasional.
"Seluruh perguruan tinggi ini perlu berkolaborasi dan membangun kerjasama dengan berbagai mitra nasional dan global," papar Dr. Agus.
Kementerian Ristek Dikti saat ini mengkoordinasikan tujuh lembaga pemerintah non kementerian dalam bidang penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi, termasuk Badan Pengembangan dan Pengkajian Teknologi (BPPT).
Termasuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), yang saat ini membuka diri untuk kerjasama program-program riset, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai entitas di dalam negeri dan luar negeri.
"Untuk itu, inisiatif yang dilakukan oleh perguruan tinggi dalam kerangka Trilateral University Roundtable Meeting ini sangat kami sambut. Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Hasanuddin yang telah mempersiapkan dan melaksanakan acara ini dengan sangat baik," kata Agus dalam bagian pidato tertulis yang dibacakan.
Sementara itu, Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, menjelaskan secara singkat latar belakang kerja sama dalam kerangka TURM.
"Ada begitu banyak perguruan tinggi yang secara geografis berdekatan. Di Kawasan Timur Indonesia, kita memiliki konsorsium perguruan tinggi negeri yang terdiri atas 26 universitas. Ini adalah potensi kerjasama untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang besar. Belum lagi perguruan tinggi yang dikelola swasta, kata Prof. Dwia.
TURM ke-4 kali ini telah menyepakati untuk membentuk konsorsium perguruan tinggi trilateral, yang namanya akan diumumkan dalam pertemuan Working Grup siang hari ini.
Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan presentasi panel sesi pertama, dimana wakil-wakil dari 7 (tujuh) perguruan tinggi memberikan paparan mengenai kerjasama riset dan kolaborasi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial humaniora, yaitu Charles Darwin University, Universidade Nacional Timor Lorosae, Universitas Hasanuddin, Universitas Nusa Cendana, Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Kristen Satya Wacana.
"Selain dalam bidang energi baru dan terbarukan, bidang transportasi terutama untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di beberapa kota besar, Indonesia juga merencanakan untuk menjadi bagian dari poros maritim dunia, khususnya di Asia Tenggara," kata Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas mewakili Menristekdikti, Dr Ir Agus Puji Prasetyono, M Eng di Makassar, Selasa.
Indonesia, kata dia, juga terus mengembangkan program-program jangka menengah dan jangka panjang dalam bidang ICT, infrastruktur, pertanian, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan obat-obatan, rekayasa nuklir, pariwisata, dan juga program-program sosial humaniora.
"Untuk itu, komunitas pendidikan tinggi, baik universitas maupun politeknik, menjadi sangat strategis di Indonesia," katanya pada Pembukaan The 4th Trilateral University Roundtable Meeting (TURM) di Universitas Hasanuddin, Makassar, hari ini.
Ia menjelaskan, di Indonesia saat ini terdapat sekitar 4.500 universitas, baik negeri maupun swasta. Terdapat 120 universitas negeri dan 160 politeknik yang ditujukan untuk mendukung dan mengembangkan perekonomian dan daya saing nasional.
"Seluruh perguruan tinggi ini perlu berkolaborasi dan membangun kerjasama dengan berbagai mitra nasional dan global," papar Dr. Agus.
Kementerian Ristek Dikti saat ini mengkoordinasikan tujuh lembaga pemerintah non kementerian dalam bidang penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi, termasuk Badan Pengembangan dan Pengkajian Teknologi (BPPT).
Termasuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), yang saat ini membuka diri untuk kerjasama program-program riset, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai entitas di dalam negeri dan luar negeri.
"Untuk itu, inisiatif yang dilakukan oleh perguruan tinggi dalam kerangka Trilateral University Roundtable Meeting ini sangat kami sambut. Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Hasanuddin yang telah mempersiapkan dan melaksanakan acara ini dengan sangat baik," kata Agus dalam bagian pidato tertulis yang dibacakan.
Sementara itu, Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, menjelaskan secara singkat latar belakang kerja sama dalam kerangka TURM.
"Ada begitu banyak perguruan tinggi yang secara geografis berdekatan. Di Kawasan Timur Indonesia, kita memiliki konsorsium perguruan tinggi negeri yang terdiri atas 26 universitas. Ini adalah potensi kerjasama untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang besar. Belum lagi perguruan tinggi yang dikelola swasta, kata Prof. Dwia.
TURM ke-4 kali ini telah menyepakati untuk membentuk konsorsium perguruan tinggi trilateral, yang namanya akan diumumkan dalam pertemuan Working Grup siang hari ini.
Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan presentasi panel sesi pertama, dimana wakil-wakil dari 7 (tujuh) perguruan tinggi memberikan paparan mengenai kerjasama riset dan kolaborasi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial humaniora, yaitu Charles Darwin University, Universidade Nacional Timor Lorosae, Universitas Hasanuddin, Universitas Nusa Cendana, Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Kristen Satya Wacana.
Pewarta : Abd Kadir
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Meski telah bekerja 15 tahun, ratusan honorer tak penuhi syarat pengangkatan P3K paruh waktu di Gowa
13 January 2026 4:10 WIB
Gubernur Sulsel lepas 100 tenaga kesehatan dan tambah bantuan Rp1 miliar ke Aceh
08 December 2025 20:52 WIB
Pemkot Makassar dan Yokohama Jepang kerja sama pelatihan dan penyerapan tenaga kerja
25 November 2025 20:32 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Gubernur Sulsel: Tantangan terbesar program imunisasi adalah mindset orang tua
02 April 2026 21:18 WIB
Pemkot Makassar dan Telkomsel berpeluang kolaborasi program digitalisasi sekolah
02 April 2026 19:49 WIB