Satpam UIN Alauddin aniaya wartawan Makassar

id wartawan dianiaya,makassar terkini,Suriani Echa,Satpam UIN Alauddin aniaya wartawan

Wartawan Peduli Sesama (Antara News)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Seorang wartawan dari media daring, Makassar Terkini.id, Suriani Echa kembali mendapat perlakukan kekerasan dan penganiayaan oleh oknum Satuan Pengamanan (Satpam) kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Samata, di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Korban merasa dianiaya oknum Satpam kampus setempat bernama Eko. Kejadian itu terjadi ketika dirinya hendak masuk ke dalam kampus menggunakan sepeda motor.

Saat itu, korban melaju dari arah Pattallassang, Kabupaten Gowa menuju Makassar untuk ke kantor redaksi. Namun saat tiba di depan Kampus UIN, ruas jalan tersebut mengalami kemacetan total.

Karena terjebak macet hampir 30 menit, dirinya memilih ikut pengendara lain yang mengambil jalan alternatif berada di dalam Kampus UIN Alauddin tersebut.

Sesampai di dekat gedung rektorat ada dua orang Satpam langsung menghadang lalu membentak-bentaknya, padahal ada ?beberapa pengendara juga melintas di lokasi itu. Kedua Satpam ini beralasan tidak boleh lewat sedang ada upacara.

"Saya bicara baik-baik dengan mereka, bisakah lewat, karena di depan ada beberapa pengendara sepeda motor juga berhasil lewat. Tapi dijawabnya dengan marah-marah bahkan dengan nada emosi tangannya melayang depan wajah saya mau memukul. Tapi saya tangkis. lalu dia mendorong saya," beber Echa.

Tidak sampai disitu, kedua satpam kampus Islam ini malah mengintimidasi, dan merampas kunci sepeda motornya. Karena korban berusaha mengamankan kuncinya secara kasar oknum Satpam ini merampas hingga tangannya terluka serta motonya terjatuh membuat kaca spion pecah.

"Saya diperlakukan seolah seperti penjahat. Sudah saya sudah katakan mau pergi ke kantor karena ada penugasan liputan, tapi malah ngotot sampai membentak dan menghardik, meski wartawan tidak ada urusan, kaki saya juga masih terasa sakit," tuturnya.

Dirinya mengakui bukan hanya kali ini Satpam kampus pencetak ulama itu menganiaya wartawan, bahkan saat melakukan peliputan di kampus itu pernah mengalami intimidasi. Sejumlah wartawan juga pernah mengalami hal yang sama disana.

"Tentu dengan kejadian berulang ini menjadi presenden buruk bagi Kampus UIN Alauddin, rekan-rekan kami juga pernah mengalami hal serupa akan arogansinya Satpam di kampus itu. Apakah pihak birokrasi menyuruh keamanan bertindak kasar seperti, hanya gara-gara melarang orang melintas. Tidak adakah cara lebih persuasif menangani orang, " ungkapnya.

Akibat kejadian dialaminya langsung melaporkan ke Polres Kabupaten Gowa untuk ditindaklanjuti, sebab apa yang dilakukan oknum Satpam itu sudah melewati batas kewajaran, seolah-olah ada kesalahan besar yang dilakukannya.

"Sementara saya di kantor polisi Polres Gowa untuk melaporkan perbuatannya, saya berharap aparat penegak hukum bekerja sesuai dengan profesinya memproses kasus ini secara adil dan bijaksana, tidak berat sebelah," harap dia.

Kepala Bagian Umum UIN Alauddin Fatahuddin saat dikonfirmasi telah melakukan mediasi antara Satpam dan korban dengan harapan agar persoalan ini bisa didamaikan.

Namun dari responnya melalui telepon terkesan membela dua oknum satpamnya dengan dalih korban berjenis kelamin perempuan akan menampar satpam yang dimaksud saat dilarang melintas karena sedang ada upacara bendera.

"Dia (Echa) memaksakan masuk dari pintu dua kampus, saat dilarang lewat mengaku wartawan. Memang ada orang lewat disitu karena mahasiswa, sedangkan dia orang dari luar masuk di dalam kampus. Kami tidak melakukan penganiayaan, malah dia mau tampar petugas," ujarnya berdalih.

Saat ditanya mengapa terjadi kemacetan parah di jalan protokol tersebut, dirinya membenarkan banyak mobil peserta upacara parkir dan menggunakan bahu jalan sehingga terjadi penyempitan membuat akses jalan terhambat, padahal ruas jalan itu cukup lebar.

 "Baru kali ini macet total disitu, banyak kendaraan parkir di jalan sampai jalanan macet, makanya ada beberapa orang masuk di kampus mencari jalan lain," kilahnya.
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar