
Jenazah pemandu ATC Anthonius dikebumikan

Makassar (Antaranews Sulsel) - Seratusan taruna Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) bersama pegawai Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav) memberikan penghormatan terakhir kepada Anthonius Gunawan Agung sebelum dikebumikan.
"Saya mewakili keluarga besar Anthonius Gunawan Agung mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang hadir untuk mendoakan kepergian ananda Antonius," kata paman korban, Sambas di rumah duka Jalan Onta Baru Makassar, Senin.
Pada prosesi sebelum dibawa ke Pekuburan Umum di Wilayah Antang Makassar, jenazah pemandu lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) Anthonius disemayamkan di Gereja Katolik Mamajang, tepat di depan rumah kerabat korban.
Selama hampir dua jam berada di dalam gereja, anggota keluarga masih tidak dapat menahan kesedihannya saat dilakukan upacara pelepasan jenazah.
Bahkan kedua orang tuanya yang sejak beberapa hari tiba dari Papua, terlihat mengingat masa-masa kebiasaan yang dilakukan anaknya tersebut sembari memeluk peti jenazah Antonius. "Maafkan ibu nak, saya sudah tidak bisa garuk-garuk lagi nak," ucap ibu Anthonius yang terus berada di sisi peti jenazah anaknya itu.
Sebelumnya, Jumat (28/9) Antonius mempertaruhkan nyawanya untuk memandu pilot Batik Air ID 6231 yang akan terbang dari Palu menuju Makassar. Antonius baru melompat keluar dari jendela menara ATC, setelah memastikan pesawat Batik Air telah lepas landas dengan selamat.
Pada saat gempa terjadi, personel AirNav lain yang tidak bertugas memandu pesawat telah turun dari menara saat gempa terjadi, sementara Antonius belum turun karena masih memastikan pesawat tersebut lepas landas. Setelah pesawat dalam kondisi terbang penuh, dampak gempa sudah semakin kuat, sehingga ia memutuskan melompat dari cabin tower (lantai empat), yang mengakibatkan kakinya patah dan luka berat dalam tubuhnya.
Personel AirNav di Palu membawanya ke rumah sakit terdekat, kemudian mendapatkan rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Pihak AirNav berupaya mendatangkan helikopter dari Balikpapan untuk membawa Antonius ke rumah sakit itu, namun karena kondisi bandara, helikopter baru dapat diterbangkan pada pagi besok hari, dan sebelum helikopter itu tiba, nyawa pria kelahiran Abepura pada 24 Oktober 1996 tidak terselamatkan lagi. Jenazahnya kemudian diberangkatkan dan disemayamkan di rumah kerabanya di Makassar, Sulawesi Selatan.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
