Media sosial mudahkan kerja jurnalis

id media sosial,medsos,Media sosial mudahkan kerja jurnalis,facebook

Aplikasi media sosial (Tangkapan layar Facebook)

Beberapa produk media sosial berupa konten tertentu, seperti pendapat, gambar video, dan foto dapat mempermudah kerja wartawan yang mengutamakan kecepatan dalam penyiaran berita atau peristiwa terkini.

Syaratnya terlebih dahulu wartawan melakukan verifikasi akun dan cek ulang terhadap pernyataan atau peristiwa yang sudah terpublikasikan di medsos, untuk disiarkan sebagai berita di media massa arus utama maupun media dalam jaringan atau online berita dengan menyebutkan sumber kutipan.

Hal itu dikemukakan wartawan utama yang juga penguji kompetensi wartawan, Fredrich C. Kuen, pada kelompok diskusi terpumpun "Medsos dan Journalism Kekinian" yang dipandu Pimpinan Redaksi Phinisinews sekaligus dosen komunikasi Universitas Indonesia Timur (UIT) Mitha Mayestika di Makassar, Selasa.

Menurutnya, pemain medsos berbeda dengan wartawan, walaupun sebagian produk medsos bisa menjadi berita. Produk medsos sifatnya insidentil menjadi berita, sedangkan kerja wartawan berkesinambungan menyiarkan berita atau peristiwa yang terjadi hingga tuntas, seperti bencana alam dan silang pendapat di ranah politik.

Walaupun tidak dapat dimungkiri, ucap dia, banyak wartawan senior juga pemain medsos yang pendapatnya laris dikutip di media arus utama.

Dia mengutip pendapat wartawan senior Ilham Bintang pada diskusi di Grup WhatsAap yang mengatakan bahwa banyak wartawan sekarang menulis di medsos.

Tulisan mereka adalah karya jurnalistik, meski medianya berupa medsos, bukan media pers seperti yang dipersyaratkan oleh Undang Undang tentang Pers.

Akan tetapi, hal itu merupakan pertanda baik, bisa cepat menularkan prinsip kerja jurnalistik kepada pengguna internet atau medsos yang mayoritas masih awam.

Fredrich menyebut era keterbukaan sekarang ini serta perkembangan terknologi informasi komunikasi yang begitu pesat menjadikan "Dunia seakan tanpa sekat".

Semua informasi bisa diakses secara dalam jaringan, semua informasi bisa diunggah secara daring, dan semua informasi bisa dikomentari oleh siapa saja serta di mana saja juga secara daring. Pemanfaatan yang populer atas informasi saat ini adalah medsos.

Dunia tanpa batas ini, kata mantan Kepala Biro LKBN Antara Sulawesi Selatan dan Barat itu, harus disikapi secara bijaksana sebab di sana ada etika dan rambu-rambu hukum yang tidak boleh dilanggar.

Dengan adanya aturan yang harus ditaati, keadaan ini menjadikan kerja wartawan bisa makin mudah bila penggunaan medsos secara kreatif, mengikuti tren atau kecenderungan kemajuan teknologi dan perkembangan peristiwa.

Mengkaji dari sisi positif, mereka yang menulis di medsos, seperti twitter, facebook, instagram, youtube, vlog (Video Blog), grup Whats App, dan lainnya itu dapat dikutip sebagai "open diary" (jika tidak melakukan kuncian atau seizin) sebagai fakta fisik maupun fakta intelektual (pernyataan) asal menyebutkan sumber kutipan dan langsung menjadi produk berita legal yang disiarkan oleh media arus utama.

Begitu pula yang berlaku bagi produk jurnalisme warga, harus dibarengi pengecekan terhadap kebenaran peristiwa atau informasi yang disajikan.

Untuk produk jurnalisme warga, biasanya yang dikutip adalah laporan tentang kejadian, seperti bencana alam, baik dalam bentuk tulisan, narasi, maupun gambar.

Hal itu sejalan dengan definisi berita menurut Laurence R Campbell, Roland E Wolseley, dalam bukunya "How to Report and Write The News",?bahwa berita adalah laporan suatu kejadian baru, peristiwa, masalah, pendapat yang menarik perhatian banyak orang.

Laporan terhadap suatu peristiwa atau pendapat yang disebut berita itu, bisa dilakukan dengan cara melihat atau mendengar langsung suatu kejadian atau pendapat, atau karena keterbatasan jangkauan dan waktu, lalu mengutipnya dari media sosial yang sudah memublikasikannya.

"Terutama dari medsos yang telah terverifikasi atau seizin akun medsos yang mempublis dan sebisa mungkin melakukan `speed ?cross check` bahwa kejadian atau pendapat itu benar," katanya.


                                                                               Bijak

Menjawab pertanyaan salah seorang peserta diskusi tentang mengapa wartawan harus mengutip informasi di medsos, apakah wartawan sekarang malas atau pengguna medsos lebih unggul, menurut Fredrich, keadaan ini harus dilihat secara bijak.

Pemilik akun tertentu di medsos adalah nama-nama yang populer, meliputi pakar di beragam keilmuan, politikus, pengamat, mantan pejabat yang ahli di bidangnya.

Selain itu, wartawan senior, aktor, aktris, pesohor, dan lainnya yang sering menulis tentang pendapatnya, kegiatannya yang terkait dengan peristiwa kekinian dan layak untuk konsumsi publik melalui media arus utama. Di sisi lain, wartawan juga memiliki keterbatasan waktu (dikejar "dead line"), ketersediaan jaringan, daya jangkau, dan lainnya.

Melalui upaya kreatif maka pemilik akun tertentu yang sering bermain medsos dipantau, begitu pun pelaku jurnalisme warga yang tiba-tiba melaporkan suatu peristiwa penting yang jauh dari jangkauan wartawan, juga akan dipantau.

Lalu, wartawan atau redaktur mengonfirmasi (akun terverifikasi) atau mengecek kebenaran laporan jurnalisme warga secara cepat, selanjutnya menyiarkannya dengan menyebut sumber kutipan sebagai berita awal. Apakah wartawan sudah terganti oleh pemain medsos.

Hal ini, ujar dia, tidak betul. Sebab, pola kerja wartawan berbeda dengan pemain medsos maupun jurnalisme warga. Pemain medsos menulis atau mengunggah gambar sesuai keinginan atau keahliannya terhadap suatu objek tanggapan yang harus dikomentari.

Jurnalisme warga melaporkan suatu peristiwa seperti bencana alam karena saat itu dia mengalami atau melihat langsung kejadian.

Pemain medsos tersebut bermain secara insidentil untuk tiap topik, sedangkan wartawan menjalankan profesinya secara terus-menerus untuk menginformasikan berita kebenaran sesuai fakta hingga tuntas supaya publik mendapatkan informasi secara utuh.
 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar