
Sulbar Surplus Beras 70 Ribu Ton

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Sulawesi Barat mengalami surplus beras sekitar 70 ribu ton karena tingginya tingkat produksi pertanian di wilayah itu khususnya di wilayah sentra produksi Kabupaten Polewali Mandar (Polman) pada 2009.
Surplus beras yang mencapai 70 ribu ton karena produksi padi di Sulbar khususnya di wilayah Sentra produksi beras Polman cukup tinggi mencapai sekitar 7,1 ton per hektare, kata Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh di Mamuju, Selasa.
Ia mengatakan tingginya tingkat produksi tersebut karena sekitar 16.000 hektare lahan pertanian padi di wilayah itu didukung sarana irigasi teknis dan teknik budi daya pertanian padat teknologi.
Tetapi kata dia, meskipun produksi beras Sulbar mengalami surplus karena tingginya tingkat produksi padi tahun 2009, namun hal tersebut tidak bisa membuat pemerintah lengah, tetapi harus terus membangun sektor pertanian khususnya menyankut sarana dan prasarananya.
"Persediaan tahun ini bisa saja aman, tetapi bisa juga habis pada tahun berikutnya, kalau pemerintah lengah dan tidak melakukan antisipasi, karena di wilayah ini memiliki curah hujan yang tinggi yang dapat menimbulkan banjir yang bisa membuat tanaman padi petani terendam banjir dan menjadi gagal panen,''ujarnya.
Ia menyampaikan, di Kabupaten Polman tahun ini dilanda banjir sehingga membuat bendungan Sekka-Sekka yang menjadi sumber pengairan dari irigasi teknis rusak, selain itu membuat sekitar 5000 hektare tanaman padi gagal panen karena terendam banjir.
Sehingga menurut dia, dari dampak bencana alam tersebut, maka kemungkinan besar surplus beras yang terjadi tahun ini, bisa saja tidak lagi terjadi pada tahun berikutnya karena produksi beras diprediksikan akan menurun.
Oleh karena itu kata dia, pemerintah tidak boleh lengah dan harus tetap melakukan antisipasi dengan meningkatkan program peningkatan produksi pertanian dan luas areal pertamanan padi serta mewaspadai masa tanam dan masa panen agar lebih dipercepat.
"Sulbar harus tetap surplus beras karena kita tidak ingin daerah ini menjadi tukang impor beras,''ujarnya.
(T.PK-MFH/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
