
Sulsel Target Populasi Sapi Satu Juta Ekor

Makassar (ANTARA Sulsel) - Populasi ternak sapi di Sulawesi Selatan hingga tahun 2013 akan mencapai 1.016.729 ekor, bertambah 300 ribu ekor lebih atau 35 persen dari populasi sekarang tercatat 711.419 ekor sapi.
Pengembangan sapi selama lima tahun tersebut untuk memperkuat ketahanan pangan nasional khususnya penyediaan daging untuk konsumsi masyarakat, kata Kepala Dinas Peternakan Sulsel, Ir. H M. Arifin Daud, Msi di Makassar, Selasa.
Target populasi ternak sapi setiap tahun antara 50 ribu sampai 60.000 ekor dengan rincian tahun 2009 sebanyak 764.099 ekor, 2010 naik menjadi 822.350 ekor, pada 2011 akan dicapai 880.157 ekor, 2012 bertambah menjadi 943.341 ekor dan tahun 2013 populasinya mencapai 1.016.729 ekor.
Untuk mencapai sasaran populasi sapi sebanyak itu dilakukan peningkatan mutu intensifiksi melalui penerapan teknologi budidaya sapi melalui kawin suntik dengan melibatkan peran kelembagaan kelompok tani ternak di tingkat kabupaten/kota.
Optimalisasi kelahiran ternak sapi dengan akseptor Insiminasi Buatan (IB), katanya, dapat ditingkatkan dari 10 persen menjadi 25 persen induk, intensifikasi kawin alam dengan akseptor 50 persen induk, penambahan induk sapi betina dan pejantan dengan tingkat kelahiran (CR) 41 persen dari sebelumnya 23 persen.
Upaya lainnya yakni pengendalian pemotongan sapi betina produktif di rumah potong hewan (RPH), menurunkan tingkat kematian dan perdagangan sapi antar pulau.
Pemotongan sapi akan diturunkan dari 13 persen menjadi 9 persen setiap tahun atau sekitar 64.000 ekor/tahun, pengendalian kematian dari tiga persen menjadi 2,2 persen serta pengendalian pengeluaran ternak dari 0,43 persen menjadi 0,2 persen atau maksimal 1.500 ekor, katanya.
Menurutnya, target populasi sapi sebanyak itu dilakukan pemerintah provinsi Sulsel melalui "gerakan pencapaian satu juta ekor sapi hingga tahun 2013" dengan melibatkan kelompok ternak sapi di 23 kabupaten/kota di daerah ini.
Kendala yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan bibit sapi yang memenuhi standar teknis, makin terbatasnya pejantan akibat pemotongan, meningkatnya pemotongan sapi betina produktif, belum optimalnya kelahiran hasil kawin suntik (IB), terbatasnya lahan untuk peternakan sapi serta faktor keamanan ternak.
Mengenai adanya peluang ekspor sapi ke Malaysia setelah pemerintah Pusat membuka 'kran' ekspor, kata Arifin, pihaknya sudah melakukan penjajakan ke negara tetangga tersebut dengan harga sapi yang cukup tinggi dibanding harga dalam negeri.
Tetapi, lanjutnya, lebih bagus Malaysia berinvestasi sapi di provinsi ini daripada mengekspor sebab manfaatnya sangat besar terutama terbukanya kesempatan kerja di sektor ini sekaligus pendapatan petani bertambah. (T.PK-HK/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
