
700 Pekerja Anak di Kota Makassar

Makassar (ANTARA News) - Sekitar 700 orang pekerja anak di Kota Makassar bekerja di sejumlah tempat dan sebagian besar menjadi pengemis.
"Fenomena anak ini dapat ditemukan di jalan, kafe, warung dan pasar tradisional. Mereka bekerja sebagai buruh kasar dan sebagian menjadi pengemis," kata Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Sulawesi Selatan (LPA Sulsel) Muh Gufron di Makassar, Jumat.
Dia mengatakan, umumnya pekerja anak tersebut disebabkan karena desakan ekonomi keluarga, sehingga harus membantu orang tuanya mencari nafkah, meskipun harus melalaikan mendapatkan haknya di sektor pendidikan.
Lebih jauh dia mengemukakan, meskipun LPA Sulsel tidak memiliki data jumlah pekerja anak di Sulsel, namun jumlah pekerja anak di Kota Makassar berdasarkan hasil survei di sejumlah titik di kota berjulukan "anging mammiri" ini tercatat 700 orang pekerja anak.
Menyikapi hal tersebut terkait dengan peringatan Hari Anak Nasional, lanjutnya, keluarga dan pemerintah harus memberikan perhatian penuh pada anak-anak, khususnya untuk memenuhi hak dasar anak.
Sementara bila membandingan penanganan kasus anak di Kota Makassar dan daerah lainnya di Sulsel, ia mengatakan, penanganan kasus anak di kota ini sudah lebih baik dibanding 23 kabupaten/kota lainnya.
Sebagai gambaran, kasus anak yang terkait dengan kekerasan rumah tangga atau kriminalisasi, sudah mendapat perhatian dari lembaga hukum setempat atau pun lembaga swadaya masyarakat yang fokus terhadap permasalahan anak.
Hal tersebut diakui salah seorang pemerhati anak, Musdalifah Umar di Makassar.
Dia mengatakan, untuk kasus anak yang terkait dengan hukum, seperti pelecehan seksual, perlakuan persidangan pada saat kasusnya digelar, sudah berusaha melindungi kepentingan anak yang menjadi korban.
"Salah satu diantaranya dengan menyatakan sidang tersebut tidak terbuka untuk umum," katanya.(T.S036/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
