
BII Optimalkan Kerjasama Jejaring Program BPR

Makassar (ANTARA Sulsel) - Bank Internasional Indonesia (BII) meningkatkan kerjasama jejaring (linkage) program BPR di Sulawesi dengan menetapkan pagu kredit sebesar Rp25 miliar.BII menekankan penyaluran kredit untuk pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor pertanian, tambak, dan perdagangan.
"Penyaluran kredit UMKM tetap memanfaatkan 'linkage program.' Pengembangannya membidik sejumlah kawasan yang berpotensi di Sulawesi," kata Deputy President Director BII Sukatmo Padmosukarso di Makassar, pekan lalu.
Sukatmo menjelaskan, BII telah memasukkan agrobisnis dan perdagangan sebagai salah satu usaha UMKM yang memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan.
Penyaluran kredit UMKM melalui BPR, lanjut dia, telah memberikan sumbangsih dari total pertumbuhan kredit BII sebesar 25 persen. Linkage program BPR sudah dilaksanakan di di Sulsel, Palu, dan Menado, Ambon, dan Jayapura yang memperlihatkan pertumbuhan pesat.
Portofolio BPR di Sulawesi, Ambon dan Jayapura di semester IV 2008 lalu mencapai Rp200 miliar, secara nasional bank dengan penyaluran kredit kotor Rp38,054 triliun per 30 September 2008 itu, sudah merangkul 88 BPR dengan portofolio mendekati Rp600 miliar.
"BPR menjadi tulang punggung BII untuk menyentuh kawasan terpencil yang memiliki usaha MKM. Kerjasama dengan BPR terus dikembangkan karena memberikan efek positif dalam membantu pengembangan sektor mikro," tuturnya.
Sementara kredit yang ditangani langsung diberi nama BII Suka Suka telah memberikan pinjaman antara Rp50 juta - Rp2 miliar.
Dia mengaku, proses program kredit BII ini hanya membutuhkan waktu lima hari kerja.
Bank dengan total DPK Rp42 triliun itu, kata dia, juga mengalokasikan kredit komersil untuk proyek infrastruktur, pengaspalan, dan perdagangan. Penyaluran kredit komersil itu, langsung di bawah kewenangan kantor wilayah BII dengan nilai pinjaman sebesar Rp5 miliar - Rp10 miliar.
BII sedikit memperlambat penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) yang disebabkan kenaikkan non performance loan (NPL) yang mendekati ketetapan Bank Indonesia (BI) sebesar lima persen. Meski begitu dia mengaku penyaluran KPR hingga akhir tahun 2008 terbilang besar dan pesat.
"KPR mengalami pertumbuhan pesat, namun NPL meningkat dan harus diwaspadai. Penyaluran dilakukan secara selektif dengan memperketat survei terhadap calon nasabah," ucapnya.
Secara umum kinerja BII di KTI sepanjang tahun 2008 tumbuh pesat dan tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
BII memiliki 235 kantor cabang di Indonesia dengan enam kantor wilayah yang berada di Sumatera, Jateng, Jatim, Nustra, Sulawesi dan Menado.
Di KTI beroperasi 20 Kacab dimana sembilan kacab berada di Makassar, Kendari, Palu dan Menado.
"Mengenai prognosa dan keuntungan BII tahun 2008 belum dapat dirilis karena terkait dengan harga saham di pasar," ungkap dia.
(T.PK-HK/R007)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
