Logo Header Antaranews Makassar

Sulsel Diminta Perkuat Pasar Domestik

Kamis, 12 Februari 2009 01:06 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan diminta perkuat pasar domestik untuk mengantisipasi penurunan permintaan ekspor sebagai bentuk antisipasi krisis keuangan global.

Communication Officer Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Randy Salim saat melakukan kunjungan di Makassar, Rabu mengatakan pasar domestik di Indonesia utamanya Sulsel diakui masih memiliki potensi khususnya pemasaran hasil komoditas pertanian

Kondisi ini, lanjut dia, cukup menguntungkan Sulsel, sebab mayoritas penduduk Sulsel masih mengantungkan penghasilan pada sektor pertanian. Hingga saat ini, Sulsel masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan sejumlah komoditi unggulan seperti beras, jagung, dan kakao.

"Secara umum kondisi dalam negeri masih jauh lebih stabil dalam menghadapi krisis tahun ini, dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara," ujarnya.

Dia menilai, ketahanan Indonesia dipengaruhi oleh tiga faktor diantaranya adalah manajemen perekonomian yang masih kuat, memiliki pasar domestik yang besar, dan kondisi sektor perbankan nasional yang tidak lagi tergantung pada perbankan internasional.

Bank dunia, ungkap dia telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan dana kepada pemerintah daerah. Bank dunia masih menunggu usulan kebutuhan pendanaan untuk mendukung sektor pertanian dari sejumlah pemerintah daerah termasuk Sulsel.

"Kami telah melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat, membicarakan bentuk bantuan pembiayaan untuk mendukung peningkatan produksi jagung di Indonesia," ungkapnya.

Hal senada juga pernah disampaikan pengamat Ekonomi Indef, Afiliani yang menilai pergerakan ekonomi di daerah khususnya Sulsel membutuhkan kesiapan pemerintah untuk memfokuskan pengembangan di sektor pertanian. Mengingat, potensi sektor ini cukup besar untuk memperkuat pergerakan ekonomi daerah.

Menurutnya, selama ini kebijakan ekonomi yang diberlakukan pemerintah masih cenderung seragam, sehingga meskipun KTI dinilai sudah maju, namun kemajuannya masih lamban.

Terkait dengan hal tersebut dan juga upaya menghadapi krisis global, pemerintah pusat hingga daerah sudah harus menata ulang kembali kebijakan ekonominya sehingga dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen saja, sudah cukup baik di tengah krisis ekonomi global ini.

"Kondisi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan Cina, Jepang dan Rusia. Karena itu, krisis ekonomi dunia yang terjadi saat ini, hendaknya dapat membuat negara-negara Asia bersatu membangun ekonomi, sehingga pada 2030 mendatang dapat menjadi negara terbesar kelima di dunia yang maju ekonominya," paparnya.
(T.PK-HK/Z002)