Logo Header Antaranews Makassar

Bupati Bulukumba Didebat Aktivis

Jumat, 22 April 2011 13:10 WIB
Image Print

Bulukumba, Sulsel (ANTARA News) - Bupati Bulukumba, Sulawesi Selatan, Zainuddin Hasan kembali didebat dadakan aktivis terkait maraknya demonstrasi di daerah itu karena Bupati tidak pernah menerima aspirasi pendemo.

Debat dadakan terjadi saat Bupati memberi sambutan di Musrembang Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di Bulukumba, Jumat, dan kejadian itu merupakan kali kesekian Bupati didebat dadakan oleh aktivis pemuda dan LSM.

Kejadian tersebut bermula saat Bupati Zainuddin Hasan secara sengaja melontarkan kata-kata yang berulang selama tiga kali kemudian dianggap menyinggung peserta RPJMD yang hadir.

"Saya baru menjabat bupat, namun terus-menerus didemo, kalau 50 persen rakyat Bulukumba yang demo itu berbahaya berarti saya tidak dipercaya lagi, tapi kalau demonya hanya 10 sampai 12 orang saja EGP (Emang Gue Pikirin)," kata Bupati dari atas podium hingga berulang selama tiga kali.

Hal itu sontak diprotes Aktivis Bulukumba, Rudi Tahas dengan berkata, "Bapak tidak pernah hadir kalau ada demo dimana Bapak Bupati, kenapa tidak menerima aspirasi kami."
Bupati menjawab, "Saya kan di Jakarta mengurus bagaimana mengembangkan Bulukumba lebih baik, lain kali kalau mau demo beri tahu saya terlebih dahulu, saya tunggu, saya tidak pernah lari, jabatan bupati kan kolektif, wakil dan asisten juga bisa menerima aspirasi."

Jawaban bupati yang dilontarkan dengan nada tinggi itu langsung mengundang reaksi fisik, sehingga pengamanan dari Satpol PP nyaris menarik keluar interupsi yang dilakukan Rudi, namun urung dilakukan karena banyak peserta menahannya.

Debat pun berlanjut dengan mempertanyakan pabrik penggilingan beras moderen yang pembangunannya tidak sesuai mekanisme dengan membangun lebih dulu kemudian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pun menyusul belakangan.

"Penggilingan itu kan milik istri Bupati, kenapa dulunya dikatakan milik Pemerintah daerah, lalu izinnya pun terbit setelah gedung nya berdiri, ada apa?," papar Rudi kembali menyerang Bupati.

Menurut Bupati, penggilingan itu milik swasta bukan milik pemda, ya saya akui itu memang milik istri saya. Sebelum menjadi bupati disini saya juga banyak mengelola usaha-usaha bukan hanya di Bulukumba saja.

Kejadian tersebut terus memanas lalu Bupati langsung menutup dan memohon ijin kepada peserta kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. (T.KR-HK/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026