
Bupati Bulukumba Mutasi Dua Dokter

Bulukumba, Sulsel (ANTARA News) - Bupati Bulukumba, Sulawesi Selatan, Zainuddin Hasan, Kamis, memutasi dua dokter ahli Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Dg Radja ke Puskesmas pasca unjukrasa mogok kerja paramedis di rumah sakit itu.
Dokter tersebut masing-masing dr Wiwiek Setio (ahli anak) yang pada waktu itu sebagai koordinator aksi, dipindahkan ke Puskesmas Kassi, Kecamatan Kajang sekitar 41 kilometer dari Kota Bulukumba dan dr Rizal Ridwan Dappi (ahli kandungan) dipindahkan ke Puskesmas Caile, Kecamatan Ujung Bulu, Bulukumba
"Sungguh kami tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Kami menyesalkan tindakan arogan Bupati Bulukumba, kami meminta hak, apakah meminta hak itu dilarang, dimana letak keadilan itu," ucap Wiwiek.
Sebelumnya, Wiwiek bertindak sebagai koordinator aksi dokter dan perawat di Rumah Sakit Sulthan Dg Radja pekan lalu. Mereka melakukan aksi mogok kerja dengan tidak melayani pasien baru dan menuntut jasa medis Jamkesda dan jasa medis umum lainnya yang belum terbayarkan sejak 2009, termasuk obat-obatan sekitar Rp3,2 miliar lebih.
Menurut dia, apa yang dilakukan semata-mata memperjuangkan kepentingan para tenaga medis dan bukan dirinya dan kelangsungan pelayanan medis kepada pasien.
Akibat mutasi tersebut, dukungan aktivis pun mengalir puluhan massa yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Bulukumba melakukan Demostrasi di depan RSUD Sultan Dg Radja sebagai bentuk dukungan kepada para tenaga medis yang hak-hak mereka tidak ditanggapi Bupati Bulukumba sebagai pemimpin di daerah "Butta Panrita Lopi".
Selain dukungan itu, Pendemo juga mendesak agar Bupati Bulukumba, Zainuddin Hasan tidak bertindak arogan dan meminta maaf secara terbuka kepada dokter dan perawat sebagai bentuk pertanggung jawaban moral, bukan malah mengintimidasinya serta segera mencari solusi agar pemasalahan ini cepat terselesaikan .
"Kami meminta agar Bupati meminta maaf secara terbuka kepada dokter dan perawat di rumah Sakit ini, bukan malah diintimidasi. Selanjutnya, meminta Direktur RSUD Sultan Dg Radja, Diahmarni Ghandis mundur karena dianggap tidak mampu melakukan pengelolaan manajemen secara baik," ucap Rahman, selaku Kordinator Aksi FPR, di depan Rumkit itu.
Bupati Zainuddin Hasan membantah bahwa aksi mogok yang lalu dilakukan sejumlah dokter dan perawat berujung pada mutasi dua dokter sebagai ajang balas aksi. Bahkan dia mengatakan mutasi tersebut sebagai kebutuhan reposisi dan penyegaran bila PNS jenuh ditempat itu maka ditempatkan yang lebih baik agar kejenuhan dapat teratasi.
"Mutasi itu dilakukan sebagai ajang penyegaran bukan berarti dokter yang bersangkutan sebelumnya mogok kerja. Sekali lagi bukan karena mereka demo. Jangankan PNS, sekalipun Sekda dapat di mutasi," ucapnya.
Aksi Dukungan Pro dan Konta antara pendukung dokter-perawat dan pihak Pembela Pemkab terus terjadi dalam tiga hari terakhir. Sebelumnya dua kelompok aktivis yang berbeda itu meminta pihak pemkab memberikan sanksi kepada dokter-perawat yang malas. Sementara aksi balasan dari pihak kontra mendukung para dokter dan perawat agar hak-haknya dipenuhi oleh pemkab dalam hal ini Bupati Bulukumba.
Bahkan tersiar kabar sebagian dokter dan perawat mendapat intimidasi dari pihak tertentu agar tidak lagi melakukan aksi mogok kerja. Selain itu isu mutasi ke daerah terpencil masih terus manjadi ancaman buat mereka yang memperjuangkan hak-haknya yang telah terijak-ijak dengan meminta keadilan.(T.KR-HKF003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
