
IDGAI Hadirkan Gerai Pameran Produk Perawatan Gigi

Makassar (ANTARA News) - Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia pada Pertemuan Ilmiah Nasional yang digelar di Makassar 6 - 7 Mei 2011, menghadirkan 30 gerai produk perawatan gigi yang berasal dari dalam dan luar negeri.
"Ini merupakan salah satu bentuk sosialisasi perawatan gigi dan mulut kepada masyarakat luas," kata Ketua Panitia PIN IDGAI Prof dr drg Sherly Horax, MS di Makassar, Jumat.
Dia mengatakan, selain menghadirkan produk untuk perawatan dan kesehatan gigi atau mulut, juga digelar seminar dan lomba poster tentang info layanan kesehatan.
Menurut dia, semua kegiatan tersebut menjadi media sosialisasi pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, sejak anak usia dini hingga manula.
"Pentingnya memberikan pemahaman dan pendidikan perawatan gigi dan mulut itu dilakukan pada saat anak-anak, kemudian membiasakan memelihara dan merawat gigi," katanya.
Lebih jauh dia mengatakan, masih rendahnya pengetahuan masyarakat untuk menjaga dan memelihara gigi itu, menyebabkan tingkat prevalensi penyakit gigi di Indonesia masih cukup tinggi.
Prevalensi sakit gigi di Indonesia, kata dia, disebabkan oleh dua faktor yakni edukasi yang masih lemah dan biaya perawatan atau pengobatan gigi masih cukup mahal.
Hal itu diakui salah seorang pengunjung pameran alat-alat kesehatan gigi, Nurwahidah di Makassar.
Dia mengatakan, sebenarnya masyarakat sudah mendapat pemahaman penting menjaga kesehatan gigi melalui iklan pasta gigi yang ditayangkan di televisi, namun untuk menjangkau layanan kesehatan gigi pada saat sakit atau giginya bermasalah masih terbentur kendala biaya.
"Beberapa daerah sudah memasukkan pelayanan kesehatan gigi dalam program Jamkesda, namun masih ada pula yang mengharuskan pasien membayar mahal untuk perawatan, ketika giginya bermasalah," katanya.
Kondisi itulah, lanjut dia, yang harus dicarikan solusinya, sehingga masyarakat ekonomi lemah juga dapat mengakses pelayanan kesehatan gigi yang relatif mahal.(T.S036/N005)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
