Logo Header Antaranews Makassar

Anoa dan Monyet Sulsel Terancam Punah

Senin, 19 September 2011 20:31 WIB
Image Print
Makassar (ANTARA News) - Satwa atau hewan langka Indonesia yang terdapat di Sulawesi Selatan, anoa dan monyet terancam mengalami kepunahan jika tidak segera diselamatkan.

Wakil ketua Panitia Khusus Rancangan peraturan daerah (Raperda) perlindungan Sumber Daya Alam (SDA) Hayati Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulsel, Ince Langke di Makassar, Senin mengatakan, dua hewan langkah ini terancam punah karena habitat mereka terganggu dengan maraknya penambangan, dan pembukaan lahan baru untuk pertanian.

Anoa umumnya mendiami pegunungan Latimojong di Kabupaten Enrekang, Luwu dan Toraja. Populasi Anoa di kawasan ini disebut Ince menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir seiring bertambahnya area perkebunan baru di kaki-kaki gunung.

Sedangkan monyet banyak terdapat di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros dan Pangkep yang terusik oleh banyaknya perusahaan tambang seperti tambang semen, marmer, galian C dan tambang mineral lainnya.

Hanya saja, Pansus belum memiliki data populasi terakhir kedua jenis satwa yang disebut terancam punah.

Salah satu anggota Pansus, Muh Taufiq Zainuddin mengatakan, raperda ini mengakomodasi perlindungan dan pengawasan terhadap seluruh flora dan fauna khas Sulsel yang hidup di darat, laut dan udara yang hidup di Sulsel.

Menurut Wakil Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, maraknya reklamasi pantai, tambang galian c, tambang mineral dan batu bara, maupun pencemaran udara dari asap-asap pabrik mengancam keberlanjutan keanekaragaman 226 spesies langka Sulsel.

Taufik mengemukakan, meski ada undang-undang yang mengatur tentang perlindungan satwa dan tumbuhan, namun tidak secara spesifik sehingga harus dibuatkan peraturan daerah.

"Dengan perda, pembicaraan sudah fokus pada tingkat mikro. Kita persempit masalah hayati, satwa dan tumbuhan," ucapnya. (T.pso-099/N005)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026