
Harga Telur di Polman Turun

Polman, Sulbar (ANTARA News) - Sejak sepekan terakhir, harga telur di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, turun cukup drastis, hinga 150 persen dari harga biasanya.
Pantauan di Pasar Sentral Pekkabata Polman, Selasa, penurunan harga telur ayam ras mencapai 50 persen. Dari Rp40.000 per rak isi 30 butir sekitar sepekan sebelumnya, saat ini turun menjadi Rp30.000 bahkan hingga Rp27.000 per rak.
Sementara harga telur bebek paling anjlok, sebab telah mencapai 150 persen. Dari Rp75.000 per rak isi 30 butir sejak sepekan lalu, saat ini turun menjadi Rp30.000 per rak.
"Satu-satunya harga yang tidak mengalami perubahan adalah telur ayam kampung yang biasanya dijual dengan harga Rp60.000 per rak, sampai saat ini masih berada pada kisaran harga tersebut dan sudah bertahan sejak sepekan lalu," ungkap salah satu pedagang di Pasar Sentral Pekkabata Polman, Bahar.
Menurutnya, penurunan harga telur ayam ras dan telur bebek disebabkan stok yang cukup banyak dari para pemasok dalam Polman maupun beberapa pemasok yang berasal dari luar Polman, seperti Kabupaten Sidrap dan Pinrang, Sulawesi Selatan.
Selain itu, turunnya harga telur disebabkan daya beli masyarakat semakin rendah setelah bulan suci Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Selama bulan puasa dan hari raya Islam, kebutuhan warga dianggap sangat besar untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Berbeda dengan sekarang, pasokan banyak, namun kebutuhan warga sangat minim sebab tidak ada lagi momentum hari raya yang membutuhkan banyak telur untuk digunakan sebagai bahan makanan seperti bahan kue atau bahan makanan lainnya," ungkap pedagang lainnya, Suarni.
Dia mengaku, sebelumnya bisa menjual telur lima hingga delapan rak per hari, kini penjualan hanya berkisar antara tiga hingga lima rak. Namun, sebelumnya rata-rata warga membeli lima hingga 10 butir dan saat ini kebanyakan membeli satu rak untuk persiapan satu bulan.
Nurlela, seorang ibu rumah tangga mengaku, meskipun harga telur menurun drastis, namun tidak mungkin ia membeli telur dalam jumlah banyak sebab akan rusak dalam tiga hingga lima pekan ke depan.
"Biasanya kami hanya membeli satu rak untuk kebutuhan selama tiga pekan hingga satu bulan ke depan. Itupun beberapa butir biasanya sudah rusak akibat terlalu lama disimpan," ungkapnya. (T.PSO-284/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
