
Ratusan Ternak Babi Mati Terserang Hog Cholera

Kupang (ANTARA News) - Ratusan ekor ternak babi milik petani di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur mati akibat terserang penyakit hog cholera.
Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin yang dikonfirmasi di Kupang, Senin, mengakui, cukup banyak ternak babi milik para petani di wilayah paling timur, Pulau Flores itu mati karena terserang hog cholera selama beberapa bulan terakhir.
"Ada ratusan ekor ternak babi mati karena hog cholere. Jumlahnya sekitar 253 ekor karena serangan penyakit ini sudah terjadi sejak sekitar bulan Juni atau Juli lalu, sebelum saya dilantik memimpin daerah itu pada akhir Juli lalu," katanya.
Dia mengaku, telah mengambil berbagai langkah penanganan di lapangan dan hingga saat ini laporan mengenai kasus kematian babi sudah berkurang.
"Dua hari lalu, kami menggelar rapat membahas masalah ini dan masalah hog cholera sedang dalam penanganan," katanya.
Mengenai tindakan antisipasi, dia mengatakan, para petugas Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Flores Timur sudah melakukan tindakan pengobatan antibiotika terhadap 800 lebih ekor ternak babi dan pemberian vaksin terhadap lebih dari 1.600 ekor babi.
Dia mengakui, kebutuhan vaksin di daerah itu masih berkurang karena populasi ternak babi di wilayah itu mencapai lebih dari 90 ribu ekor.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Flores Timur Antonius Wukak Sogen mengatakan, vaksin yang digunakan saat ini adalah sisa 2010 berasal dari bantuan pusat dan pengadaan melalui APBD setempat 2011.
"Kita masih kekurangan vaksin sebanyak 13.000 dosis untuk tahun 2011 ini karena masih banyak sekali ternak babi yang belum bisa divaksin," katanya.
Mengenai gejala, dia menjelaskan, sebelum mati, babi-babi itu tidak makan, lumpuh, kejang-kejang, dan timbul bintik-bintik merah di seluruh tubuh. Saat mati, dari mulut, hidung, telinga, dan anus mengeluarkan darah.
Ternak babi yang mati itu lebih banyak terdapat di 16 desa, di enam kecamatan, di Kabupaten Flores Timur.
(T.B017/M029)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
