Pesan Perdamaian dari Tarakan
Selasa, 1 November 2011 02:44 WIB
Udhin Palisuri (Ist)
Makassar (ANTARA News) - Seniman Budayawan Sulawesi Selatan H. Udhin Palisuri menyatakan "Kepada Bangsaku, jangan saling membenci, jangan melukai hati. Kita semua bersaudara."
Hal itu dikemukakan Budayawan Udhin Palisuri dalam orasi budaya dan pembacaan puisi pada pembukaan Pesta Seni Budaya Nusantara, 26 - 27 Oktober 2011, di Lapangan Tengkayu I SDF, kota Tarakan.
Udhin Palisuri sengaja diundang ke Tarakan untuk menyampaikan Pesan Perdamaian Untuk Indonesia. Ditegaskan bahwa kekuasaan dituntut mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat, tanpa melupakan nilai-nilai adat, budaya dan tradisi. Kepada elit politik dan pemimpin bangsa, dalam menyambut Hari Sumpah Pemuda agar mengambil cermin besar, memandang potret diri, menyaksikan bopeng di wajah bangsa.
"Kepada semua pejabat di republik ini, berhentilah menjadi penyamun, merampok uang rakyat," katanya.
Pada kesempatan bersejarah ini, Tokoh Masyarakat Tidung H. Abd Wahab dan Tokoh Masyarakat Bugis Letta H. Sani bersama-sama menabuh gendang "Tunrung Pakkanjara" sebagai simbol persaudaraan sejati dan kesepakatan hati nurani bagi perdamaian. Peristiwa ini disaksikan Walikota Tarakan H. Udin Hianggio, Ketua BPC KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan ) Tarakan H. Ince A. Rifai Yusuf, SH, MH, serta para tokoh adat dan pemuka masyarakat kota Tarakan.
Pesta Seni Budaya Nusantara ini diselenggakan BPC KKSS Tarakan bersama Pemkot Tarakan dibuka dengan resmi Walikota Tarakan H. Udin Hianggio.
Dalam sambutannya Walikota Tarakan menegaskan pentingnya membangun komunikasi antarbudaya. Pendekatan ini akan menemukan solusi terhadap kekhawatiran munculnya ekskalasi konflik antarsuku. Pentas Seni Budaya Nusantara ini diharapkan dapat menggairahkan Hari Sumpah Pemuda dengan semangat kebersamaan dan persatuan.
Fenomena pertikaian antarsuku serta komunitas masyarakat jangan sampai terulang kembali. Konflik mencekam telah menyentak nurani setiap orang, karena muncul secara tiba-tiba ketika kita merindukan keindahan dalam pluralisme dan kemajemukan.
"Masyarakat kota Tarakan menuntut keharmonisan hidup dan perdamaian lintas budaya dan suku," kata Walikota Tarakan yang menutup sambutannya dengan membacakan doa untuk rakyat Tarakan.
Ketua BPC KKSS Tarakan H. Ince A. Rifai Yusuf, SH, MH, mengatakan, Pentas Seni Budaya Nusantara adalah upaya mengakomodir harapan masyarakat.
Pagelaran budaya ini memberikan nuansa baru dalam memperkokoh persatuan dan persaudaraan yang selama ini terjalin dengan rukun dan damai antara sesama warga Tarakan.
Kita berbeda-beda namun satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Mari kita jadikan budaya sebagai perekat persatuan antarsuku di Tarakan," kata Ince.
Pentas Seni Budaya Nuantara di Tarakan menampilkan beragam atraksi dan kreatifitas seni dari berbagai suku bangsa. Diantaranya atraksi Paraga, Pepe-Pepeka ri Makka, Gandrang Bulo, Tari Japin, Tari Nusantara, Kuda Lumping, Barongsai, serta Tarian dari Aceh, Bali dan sejumlah daerah.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026