Logo Header Antaranews Makassar

Penjualan Terompet dan Kembang Api Anjlok

Senin, 26 Desember 2011 20:21 WIB
Image Print
Penjual terompet (FOTO ANTARA/Yusran Uccang)
Makassar (ANTARA News) - Penjualan terompet dan kembang api untuk pesta malam tahun baru 2012 di Makassar anjlok dibanding jumlah penjualan tahun baru 2011.

Beberapa penjual terompet dan kembang api yang ditemui di Jalan Pettarani Makassar, Senin, khawatir merugi akibat minimnya pembeli akibat hujan yang terus mengguyur Makassar, meski malam tahun baru sisa empat hari lagi.

"Tahun lalu laris, sekarang kurang orang beli. Biasanya seminggu sebelum tahun barus sudah banyak laku, tetapi hari ini baru tiga (terompet)," kata salah seorang pedagang terompet, Daeng Kati yang mengaku menjajakan terompet dengan modal Rp2 juta.

Ibu dari tujuh anak ini mengatakan, selama tiga hari berjualan, baru sekitar Rp200 ribu hasil penjualan, sementara modal Rp2 juta harus dikembalikan ke pengusaha tempat mengambil terompet di Jalan Banta-bantaeng Makassar.

"Kita ambil barang dan harus habis, tidak boleh kembali. Kita khawatir karena hujan terus," keluh Daeng Kati, yang mengaku berjualan terompet untuk meringankan beban suami yang sehari-hari bekerja mengayuh becak.

Perempuan yang punya beban membiayai tiga anaknya yang masih sekolah ini menjual empat jenis teropet dengan harga bervariasi, Rp5 ribu, Rp16 ribu, Rp20 ribu, sampai Rp50 ribu yang paling besar.

Nasib serupa dialami penjual kembang api, Lira, yang sampai sore baru mendapat hasil penjualan Rp300 ribu.

"Baru hari ini kita jualan, itupun baru Rp700 ribu, sedikit ini. Tahun lalu sehari bisa Rp7 juta, mulai sebelum Natal sampai tahun baru," ujarnya.

Warga Jalan Hertasning ini menjual 30 lebih jenis kembang api dengan harga yang beragam, dari Rp5 ribu yang paling murah sampai Rp1 juta yang paling mahal.

"Paling banyak digemari yang stik, berbentuk batang, harganya Rp150 ribu. Ada juga yang satu juta, tapi biasanya baru ada yang beli sehari sebelum tahun baru," jelasnya. (T.pso-099/F003)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026