
40 Persen Warga Majene Belum Nikmati Listrik

Majene, Sulbar (ANTARA News) - Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menyebutkan masih terdapat sekitar 40 persen warga belum menikmati aliran listrik yang disediakan pemerintah dari total penduduk Majene sekitar 130 ribu.
"Saat ini, kita akui baru sekitar 60 persen warga di Majene yang menikmati aliran listrik pemerintah, itu berarti kita masih bertanggung jawab memenuhi kebutuhan listrik warga sekitar 40 persen yang terdapat di beberapa kecamatan dan masih sulit diakses akibat sulitnya medan," ungkap Kepala Distamben Majene Ahmad Rafli Nur di Majene, Selasa.
Kecamatan yang masih memiliki beberapa desa sulit diakses dan belum menikmati aliran listrik adalah Kecamatan Malunda, Ulumanda, Sendana, Tubo Sendana, Tameroddo Sendana dan Kecamatan Pamboang.
Dua kecamatan lainnya, Banggae dan Banggae Timur dianggap hampir 100 persen telah terpenuhi kebutuhan listriknya sebab dua kecamatan tersebut tidak memiliki medan yang sulit dibanding enam kecamatan tersebut yang mayoritas berada di wilayah pegunungan.
Masalah pasokan listrik juga dianggap menjadi kendala utama. Saat ini, kebutuhan listrik Majene masih disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru, Sulawesi Selatan, sementara pada pembangkit tersebut juga sering menghadapi kendala akibat debit air yang dibutuhkan tidak memenuhi kuota.
"Selama ini, pembangkit listrik kita masih disuplai dari PLTA Bakaru, padahal pasokan listrik di daerah itu juga sering terhambat akibat musim kemarau yang berdampak pada semakin berkurangnya debit air dan berkurangnya produksi listrik," katanya.
Mengantisipasi hal itu, Distamben tengah memaksimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pembangkit tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat yang telah diajukan tahun ini dan akan kembali diajukan tahun depan.
"Kami sendiri belum mampu menarget kapan seluruh kebutuhan listrik warga bisa terpenuhi sebab itu berkaitan dengan ketersediaan anggaran. Jika hanya ditanggulangi melalui APBD itu tidak bisa tercapai dengan cepat sebab ketersediaan anggaran kita tidak terlalu memadai," ucapnya.
Menurut Rafli, tahun depan akan dilakukan pembahan listrik terpusat bertenanga 150 kwh melalui PLTS untuk memenuhi kebutuhan ratusan kepala keluarga di kawasan pegunungan, utamanya warga yang berada di kawasan pelosok. (T.KR-AHN/S023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
