
Perekonomian Sulsel 2013 Masih Delapan Persen

Makassar (ANTARA News) - Perekonomian Sulawesi Selatan diperkirakan tumbuh pada kisaran 7,8 persen hingga 8,4 persen pada 2013, apabila didukung iklim usaha yang kondusif, stabilitas keamanan, sosial dan politik daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia wilayah I (Sulawesi, Maluku dan Papua) Mahmud di Makassar, Rabu, mengatakan, berdasarkan perkembangan ekonomi Sulsel beberapa tahun terakhir yang didukung oleh meningkatnya kegiatan investasi dan konsumsi serta pertumbuhan beberapa sektor ekonomi yang menonjol.
Sementara itu, laju inflasi Sulsel pada 2013 diperkirakan relatif terkendali dengan besaran yang moderat. Tekanan inflasi diperkirakan akan terjadi baik dari sisi 'volatile food' maupun 'administered' sehubungan kebijakan penyesuaian harga oleh pemerintah tahun 2013.
Berdasarkan perkembangan harga pada masing-masing kelompok serta sumber-sumber tekanan inflasi tersebut maka laju inflasi 2013 diperkirakan berada pada kisaran 4,5 persen.
Penguatan koordinasi antar daerah dari Forum Koordinasi Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah sampai pada level kabupaten sangat diperlukan guna keberhasilan pengendalian harga dan pasokan barang seluruh wilayah Sulsel.
Sebelumnya, berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan I hingga III 2012 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel serta proyeksi Bank Indonesia triwulan IV 2012, perekonomian Sulsel pada 2012 diperkirakan tumbuh pada kisaran 8,2 persen hingga 8,6 persen.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh investasi dan konsumsi, masing-masing 7,8 persen dan 5,2 persen. Pada sisi penawaran, sektor perdagangan hotel dan restoran dengan pertumbuhan 10,8 persen diperkirakan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi sebesar 1,9 persen.
Selanjutnya, sektor pertanian dan sektor ekonomi angkutan-komunikasi dengan pertumbuhan masing-masing 4,0 persen dan 16,1 persen dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,1 persen dan 1,5 persen.
Kinerja positif perekonomian Sulsel juga didukung oleh perkembangan harga barang dan jasa yang relatif terkendali. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) komposit empat kota yaitu Makassar, Parepare, Palopo dan Watampone, hingga Oktober 2012 laju inflasi Sulsel sebesar 4,9 persen.
Kelompok komoditas pangan mencatat inflasi tertinggi mencapai 8,5 persen terutama oleh tekanan harga pada komoditas padi-padian dan bumbu-bumbuan. Relatif rendahnya inflasi 'administered' sebesar 2,0 persen karena tidak adanya kebijakan pemerintah yang berdampak signifikan mendorong kenaikan harga barang dan jasa selama 2012. (T.KR-RY/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
