Logo Header Antaranews Makassar

E-voting Disimulasikan Dalam Pilkada Bantaeng

Rabu, 17 April 2013 14:25 WIB
Image Print

Bantaeng, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Pemungutan suara secara elektronik atau e-voting untuk pertama kali disimulasikan secara riil dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada Rabu ini.

Simulasi e-voting tersebut dilakukan di 42 tempat pemungutan suara (TPS) dari total 361 TPS.

Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Idrus Paturusi saat meninjau penerapan e-voting di TPS 2 Kelurahan Letta mengatakan e-voting sangat efektif, efesien, dan hasilnya lebih akurat. Pihaknya berencana mempresentasikan hasil simulasi e-voting dalam Pilkada Bantaeng ke DPR.

"Hasil e-voting ini akan diramu dalam bentuk presentasi dan akan disampaikan ke Komisi II DPR," kata Idrus.

Pihaknya berharap mendapat dukungan dari semua pihak sehingga e-voting nanti bisa diterapkan di semua pilkada, bahkan Pemilihan Presiden 2014.

"Kami berharap e-voting dapat digunakan sebagai bahan untuk pilkada dan pilpres. Kita akan buktikan bahwa e-voting efesien," katanya.

Ia mengatakan dari segi waktu yang dibutuhkan dalam proses penyaluran hak pilih, perbandingan antara cara manual dan e-voting bisa mencapai 1:5.

"Bila dihitung kecepatan waktu satu orang pakai manual, maka dengan pengunaan waktu yang sama dengan e-voting bisa lima orang," katanya.

Selain itu, tambah Idrus, e-voting juga mampu mengurangi anggaran logistik pilkada yang selama ini menyedot anggaran paling besar. Tidak hanya itu, data e-voting langsung bisa diinput dengan tingkat akurasi mencapai 99 persen.

"Hasil ini masih akan dianalisa, kami berharap mendapat `support` dari DPR," katanya.

Menurut Idrus, program e-voting merupakan teknologi dari kampus dan dikerjakan hampir seluruh perguruan tinggi dalam pengkajiannya, bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Ditanya apakah program e-voting itu dapat digunakan orang berusia lanjut, dia menyatakan masih akan dilakukan analisa.

Sementara itu pihak perwakilan BPPT Indrari Grahitandaru mengemukakan e-voting berfungsi untuk mengurangi tingkat kesalahan dan kecurangan pada saat pilkada.

Indrari menyebutkan harga satu unit alat e-voting antara Rp7-8 juta. Untuk Pilkada Bantaeng didistribusikan sebanyak 50 unit dan 42 di antaranya dipakai di berbagai TPS termasuk di daerah terpencil.

"Ada 42 unit yang digunakan, delapan unit sisanya disimpan sebagai cadangan," tuturnya.

Salah satu pemilih bernama Bahar yang ditemui usai mengunakan e-voting di TPS 2 Kelurahan Letta mengaku tidak menemui kesulitan dalam menyalurkan suara.

"Sangat mudah dan cepat, tetapi bagaimana dengan orang lansia mereka tidak tahu, lagipula itu kan masih mengunakan jaringan sinyal internet dan bisa saja dibobol," tutur alumnus salah satu perguruan tinggi itu.

Editor : Sigit Pinardi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026