Logo Header Antaranews Makassar

BKPRS Agendakan Pertemuan Gubernur se-Sulawesi

Sabtu, 15 Juni 2013 13:09 WIB
Image Print
Anwar Adnan Saleh (ANTARA FOTO/Aco Ahmad)
"Kami telah agendakan untuk melakukan pertemuan para gubernur se-Sulawesi. Hal ini dilakukan menindaklanjuti hasil pertemuan kami di Beijing dengan pemodal asal China sepekan yang lalu," kata Ketua BKPRS, H.Anwar Adnan Saleh di Mamuju, Sabtu.

Mamuju (ANTARA Sulbar) - Badan Koordinasi Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) mengungkapkan, akan segera melakukan pertemuan para gubernur se-Sulawesi setalah Idul Fitri, guna menindaklanjuti kerjasama dengan pengusaha asal kota Fangchenggang, Provinsi Guangzi, China.

"Kami telah agendakan untuk melakukan pertemuan para gubernur se-Sulawesi. Hal ini dilakukan menindaklanjuti hasil pertemuan kami di Beijing dengan pemodal asal China sepekan yang lalu," kata Ketua BKPRS, H.Anwar Adnan Saleh di Mamuju, Sabtu.

Menurutnya, pertemuan para gubernur ini sangat penting dalam mendukung percepatan pembangunan ekonomi sesuai dengan master plan MP3EI Koridor Sulawesi pengelolaan hasil pertanian, perkebunan dan pengelolaan hasil perikanan.

"Pihak pemodal asal China telah berjanji menyiapkan dana cadangan investasi untuk mendukung percepatan pembangunan di Pulau Sulawesi," kata Anwar.

Menurut dia, yang akan segera ditindaklanjuti kerjasama yaitu terkait pembangunan "sister seaport" (pelabuhan laut kembar) antara China dengan Sulbar.

"Banyak hal yang dapat dikerjasamakan baik sektor perdagangan, pariwiisata, pertanian, peternakan maupun sektor lainnya. Yang paling penting adalah mendorong kerjasama pengembangan pelabuhan laut," katanya.

Ia menyampaikan pengusaha asal Pancengghan menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti hubungan bilateral kedua negara khususnya Sulbar sesuai dengan pembicaraan di Beijing.

Anwar yang juga gubernur Sulbar menyampaikan, dana investasi yang bakal digelontorkan mencapai 250 juta US Dolar Amerika Serikat.

Sebelumnya Direktur Utama (Dirut) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sulbar/PT Sulbar Group, Harry Warganegara menyampaikan, kerjasama pengembangan "sister seaport" itu menjadi kebutuhan penting dalam rangka mengoptimalkan keberadaan pelabuhan laut di Belang-Belang Mamuju.

Kerjasama pengembangan pelabuhan laut, kata dia, sangat direspon oleh BUMN di Guangzi karena mampu menghemat dua dolar AS per ton dibandingkan harus menempuh perjalanan laut via Singapura.

"Selama ini, pengusaha Guangzi memilih alur distribusi lewat jalur Singapura. Setelah dicermati, alur pelayaran Sulawesi lebih menguntungkan China karena mampu menghemat biaya," ungkap Harry.

Perlu dipahami ujar dia, kota Fangchenggan, Guangzi merupakan kawasan pelabuhan terbesar di dataran China.

"Fangchenggan memiliki dermaga yang panjangnya sekitar dua kilometer dengan daya tampung kapal berbobot mati 250-350 ton. Tempat ini menjadi pusat aktivitas logistik ke negara-negara Asia Tenggara maupun Asia lainnya," tuturnya. Agus Setiawan



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026