
PB HMI desak PBB tengahi konflik di Mesir

Makassar, 17/8 (Antara) - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendorong dan mendesak PBB untuk ikut serta menengahi konflik para pihak di Mesir dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan bukan dengan pendekatan politik dan militer.
Ketua Umum PB HMI periode 2013 - 2015, Muh. Arief Rosyid dan Sekjen, Mulyadi P. Tamsir mengemukakan hal itu dalam pernyataan sikap yang dikirimkan ke Makassar, Sabtu.
Surat Pernyataan ini juga dikirim via pos kepada Sekjend PBB, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Ketua ASEAN, Presiden RI, Komisi I DPR RI, dan Duta Besar Mesir untuk Indonesia
"Atas nama kemanusiaan, kami mengecam atas segala bentuk kekerasan yang terjadi oleh para pihak di negara mesir. Karena, setiap tetes darah yang mengalir di tubuh rakyat mesir adalah darah kami sebagai manusia," kata alumnus Fakultas Kedokteran Unhas Makassar tersebut.
Arief mengatakan pihaknya mendesak Pemerintah Indonesia dalam hal ini Presiden Republik Indonesia untuk ikut aktif tampil sebagai mediator perdamaian para pihak di mesir. Hal ini didasarkan pada modal sejarah dan kerjsama antar kedua Negara yang sudah terbangun dari awal kemerdekaan Indonesia.
"Mendesak Negara Arab dan Negara islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam untuk ikut aktif melakukan dialog perdamaian atas konflik politik Mesir," katanya.
Pihaknya juga menghimbau kepada negara-negara yang memiliki kepentingan secara langsung dan tidak langsung untuk tidak turut serta memperuncing konflik politik Mesir.
"Seiring dengan kumandang tekad kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ada satu bangsa yang kemudian menjadi bangsa perdana yang mengamini peristiwa bersejarah tersebut. Negara bangsa itu bernama Mesir. Sebuah bangsa yang dikenal sebagai bangsa penuh peradaban dan menjadi bangsa yang mengukir sejarah dunia semesta sedari dulu kala," katanya.
Dia mengatakan Mesir mengakui de facto kemerdekaan RI, selain itu Mesir juga bersedia menanggung kehidupan ekonomi warga Indonesia di Mesir setiap bulan sebagai ganti utang yang diputuskan kedutaan Belanda waktu itu.
Selain itu, Pemerintah Mesir memberikan corong Radio Mesir kepada diplomat dan pelajar Indonesia untuk mengumandangkan lagu "Indonesia Raya" pada hari kemerdekaan Indonesia pertama kali di Mesir.
"Warga Indonesia pada perayaan kemerdekaan Indonesia pertama kali di Mesir juga menggelar pentas seni dengan judul `Kembalinya Surga`. Pentas ini merupakan teater politik yang mengisahkan pertemuan pejuang bawah tanah dengan seorang dara pengikut Soekarno di ibukota yang berakhir dengan pertemuan di lapangan Gambir dalam suasana proklamasi kemerdekaan. Aksi teater ini dimainkan langsung oleh para pemuda Mesir," katanya.
Namun saat Indonesia mempersiapkan hari Kemerdekaan 17 Agustus tahun ini, ujar dia, negara Mesir justeru dalam gelombang konflik yang memprihatinkan, korban tewas sejak peristiwa politik kepada presiden Morsi (3/7) sudah mencapai angka yang tidak bisa ditolerir.
Pewarta : Agus Setiawan
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
