Logo Header Antaranews Makassar

Sumpah Pemuda dan Kesadaran Masa Depan

Senin, 28 Oktober 2013 10:12 WIB
Image Print
Ketua Umum PB HMI, Muh. Arief Rosyid. (Foto : Dok.)

Carut marut kondisi negara membuat semua orang resah, hampir kehilangan harapan. Persoalanya, tak sedikit kita jumpai atau layak kita bahasakan di semua sendi kehidupan berbangsa terdapat permasalahan pelik yang rumit tingkat penyelesaianya. Dari Sabang sampai Merauke, mulai aspek politik, ekonomi, sosial, hingga pendidikan dan kebudayaan.

Bahkan dalam tiga lembaga negara (baca : legislatif, eksekutif, dan yudikatif) sedang mewabah penyakit yang membuat kepercayaan masyarakat dititik nadir. Korupsi, menjadi racun ganas yang mengamputasi harapan.
Dalam sebuah opini oleh Budiarto Shambazy, bahwa kita kini menganut "Trias Corruptica", bukan "Trias Politica" sebagaimana lazimnya. Tiga cabang kekuasaan kita adalah "legisla-thieves", "execu-thieves", dan "judica-thieves". Semuanya "thieves" alias pencuri.

Meminjam istilah Buya Syafii Maarif bahwa kerusakan bangsa ini nyaris sempurna. Permasalahan datang silih berganti, berentetan, menumpuk, dan cenderung tersumbat ketika sedang diupayakan solusinya.

Maka, jika Sumpah Pemuda yang dibangun dengan slogan "satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa" untuk melawan penindasan, kezaliman, dan eksploitasi penjajah di masa lalu. Semangat itu perlu ditafsirkan ulang melihat keindonesiaan kita kini. Utamanya dalam rangka menciptakan Indonesia yang adil dan makmur.

Gotong Royong

Sebuah paradoks yang nyata jika melihat pemuda kini. Kaum terdidik yang seharusnya bersikap untuk selalu menumbuhkembangkan kesadaran kritis dalam mengawal perjalanan bangsa, terjebak dalam kehidupan serba materialistik dan hedonis, tidak jarang kita juga mendengarkan kisah bagaimana perilaku menyimpang pemuda. Aksi kekerasan dalam kampus, seks bebas, terjerat narkoba, hingga menjadi aktor penjual gerakan.

Perilaku yang sesungguhnya tidak mencerminkan karakter pemuda. Perilaku destruktif yang bertolak belakang dengan sisi kepahlawanan pemuda yang dimitoskan sebagai bagian penting dalam alur perubahan.
Fenomena yang terjadi dibeberapa organisasi kepemudaaan tak luput menjadi hal yang harus dikhawatirkan.

Atraksi menyuarakan kebenaran sering dibungkus dengan motif ekonomi. Alasan bahwa hidup harus rasional menjadi gejala yang akan meneruskan penyakit yang telah mewabah di negeri ini. Persoalan ini tidak lepas dari imunitas (baca : kekebalan). Daya tahan yang tidak awet terhadap hal-hal yang sifatnya materi.

Padahal jauh hari Tan Malaka membahasakan, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda." Apa yang dibahasakan tersebut menekankan nilai penting pemuda sebagai benteng terakhir pertahanan bangsa dan kekuatan inti pemuda itu adalah idealisme.

Bermodalkan catatan emas sejarah yang menempatkan pemuda dalam setiap gelegak perubahan. Membangun cita-cita bersama lintas kelompok pemuda hari ini menjadi penting digulirkan, melihat KNPI sebagai wadah pemersatu cenderung bisu terhadap berbagai persoalan yang hadir.

Menilik tanggung jawabnya, pemuda harus menyiapkan diri untuk menunggu giliran berikutnya. Giliran memimpin, mengambil peran penentu arah bangsa. Student today, leader tommorow. Selain juga yang tak kalah penting, bertugas mengontrol berbagai persoalan kebangsaan yang terjadi hari ini, dengan melakukan counter wacana terhadap wacana mainstream yang dibangun oleh para pemilik kekuasaan.

Jika rentetan masalah atau penyakit yang menjangkiti bangsa ini tidak juga memudar akibat kejahatan dan perilaku menyimpang secara berjamaah. Inilah tantangan lintas kelompok pemuda untuk secara bersama-sama, gotong royong menyeru dan melakukan kebaikan, sekecil apapun itu.

Kita yang masih diberi kesadaran tidak harus menunggu hingga semua syarat terpenuhi, tapi mengambil sikap sebagai bentuk tanggung jawab. Sejarah masa depan harus disadari milik kita, pemuda. Berpikir sektarian dengan mengedepankan kecurigaan sudah tidak relevan lagi.

Pucuk kepemimpinan di setiap kelompok pemuda harus memiliki kerelaan untuk mengkonsolidir dirinya satu sama lain, bergandengan tangan, dan mengarahkan setiap komponennya untuk gotong royong. Menjadi tukang kontrol terhadap beragam persoalan pelik kehidupan berbangsa sekaligus menjadi pabrik yang memproduksi manusia dengan kesadaran akan masa depan bangsa ini.

Kesadaran Masa Depan

Tautan persamaan visi lintas kelompok pemuda akan menjadi energi besar yang akan melawan dominasi mereka yang korup, lalim, dan lupa dengan amanah. Saatnya pemuda menjadi lilin ditengah kegelapan bangsa, seperti halnya di masa yang telah lewat.

Pemuda memainkan peran yang besar dalam menggerakkan perubahan. Melalu ide dan gagasan, pemuda menjadi tulang punggung perubahan. Disadari atau tidak gerakan pemuda mempunyai potensi yang sangat besar dalam upaya membangun peradaban yang maju dan bermartabat.

Dengan bekal pengetahuan, wawasan keilmuan, jaringan, dan penempaan diri yang berjenjang berlapis sudah barang tentu pemuda mempunyai peranan yang niscaya dalam mengubah sebuah keadaan. Jamaknya, pemuda dengan ide dan gagasaannya selalu di tempatkan sebagai lokomotif penyuara perubahan.

Hal ini bisa kita baca dari berbagai rangkaian sejarah kehidupan bangsa. Mulai dari kebangkitan nasional 1908 hingga peristiwa berdarah Mei 1998. Pemuda selalu aktif di garda depan perubahan bangsa. Artinya, ide progesif dan visioner yang dilontarkan pemuda mampu melampaui keadaan dan membawa sebuah kebaikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berpijak dalam pusaran sejarah, dan gelagat masa depan yang cerah gilang gemilang. Perjalanan bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana pemuda mengambil jalan kepeloporan. Soekarno bahkan dengan lantang menyatakan untuk mengubah dunia ia hanya butuh sepuluh pemuda. Pemuda pemberani, bertahta moral dan etik, bervisi ide dan gagasan.
Mengingat peran vitalnya, jelas peran serta pemuda yang kini memasuki usia produktif harus mampu disalurkan di jalan yang benar.

Kesadaran sejarah bahwa mereka yang hidup zaman ini akan menentukan nasib bangsa musti disuntikkan sebagai paradigma. Sehingga pemuda zaman ini memiliki kesadaran akan masa depan yang cepat berubah.

Kesadaran akan masa depan, diharapkan membuat pemuda tak henti untuk belajar, berkarya, dan terus meningkatkan kapasitas dirinya, kreatif, dan inovatif. Sebelum pada akhirnya mereka duduk menjadi penentu dan arah kebijakan.

Gotong royong melakukan kesadaran terhadap pemuda yang lain dalam ruang-ruang pengaderan dan gotong royong dalam menunaikan kebaikan harus sesegera mungkin disadari sebagai tugas kita bersama. Tugas kita bersama yang optimis akan cerahnya masa depan bangsa ini.

Ini tugas kita bersama para pemuda! Masa depan bangsa adalah milik kita. Pilihannya hanya dengan merebut sekarang secara gotong royong sehingga menjadi tuan rumah di rumah sendiri, karena resah dan pasrah adalah sebuah pengkhianatan. Mari berbareng bergerak dalam titian visi membangun bangsa. Selamat merayakan Sumpah Pemuda.

* Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 2013-2015



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026