
Dua Indikator Kesejahteraan Tertekan Tipis pada 2014

"Dua indikator ini selain merupakan indikator penentu tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dalam wilayah tertentu," kata Purwiyanto.
Makassar (ANTARA Sulsel) - Staf ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara Purwiyanto Pranotosuwiryo mengatakan, dua indikator kesejahteraan pada 2014 yakni tingkat pengangguran dan angka kemiskinan diasumsikan tertekan tipis pada proyeksi RAPBN 2014.
"Diharapkan pada 2014, tingkat penangguran dan angka kemiskinan itu dapat tertekan lebih rendah dibandingkan pada periode 2013 yang tertuang pada APBN," kata Purwiyanto pada Seminar "Kinerja Ekonomi KTI" di Universitas Hasanuddin, Makassar, Rabu.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan diketahui, perkembangan asumsi dasar ekonomi makro untuk tingkat pengangguan pada RAPBN 2014 tercatat 5,6 - 5,9 persen, sedikit lebih rendah dibanding APBN Pokok 2013 yakni 5,8 - 6,1 persen.
Sementara untuk angka kemiskinan pada RAPBN 2014 diasumsikan 9,0 - 10,0 persen atau lebih rendah daripada APBNP 2013 yang masih mencapai 9,5 - 10,5 persen.
"Dua indikator ini selain merupakan indikator penentu tingkat kesejahteraan suatu masyarakat dalam wilayah tertentu," kata Purwiyanto.
Mencermati kondisi tersebut, maka pemerintah membuat kebijakan dan alokasi anggaran yang bertujuan memperluas perlindungan sosial pada masyarakat dan lingkungan, antara lain melalui program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM).
Sementara itu, Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr dr Idrus Paturusi mengatakan, universitas yang dipimpinnya ini selalu mendorong seminar untuk pengembangan KTI dan pembangunan ekonomi.
"Unhas mendukung segala seminar yang berbau mendukung perekonomian kita sebagai penyangga dan pemberi apresiasi dalam mendorong daerah di KTI untuk bersinergi," katanya. Budi Suyanto
Pewarta : Suriani Mappong
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
