
Puluhan Warga Sidrap Datangi Gedung DPRD

Sidrap, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Puluhan warga Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan (Sulsel), mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, Kamis.
Warga yang tediri dari Kepala Desa, Kepala Dusun, Imam Desa dan beberapa tokoh masyarakat beserta sejumlah mahasiswa itu meminta dukungan anggota dewan untuk melakukan permohonan kepada pihak penegak hukum agar 13 warga Padangloang yang saat ini ditahan di Mapolres Sidrap karena terlibat dalam kasus pembunuhan, segera dibebaskan.
Kedatanganan para warga ini diterima oleh anggota DPRD Sidrap, dari Komisi A yang dipmpin langsung ketua Komisis A, H Salman.
Mereka berharap pihak penegak hukum bijak dalam mengambil keputusan dan langkah penyelesaian masalah yang dihadapi warga Padangloang tersebut.
"Kita juga mengutuk keras tindakan pihak luar yang mencoba memperkeruh masalah tersebut yang berdampak pada isu konflik bagi warga Desa Padangloang," jelas H Muh Amir Jannating saat menyampaikan aspirasi dihadapan anggota DPRD Sidrap.
Warga juga berharap pihak DPRD dan unsur Muspida di Sidrap mampu memfasilitasi penyelesaian masalah tersebut. Mereka juga mengajak seluruh organisasi masyarakat yang pro rakyat untuk tetap mengawal kasus bersama warga Padangloang agar masalah tersebut bisa selesai cepat.
Amir meyakini bahwa ke 13 warga Padangloang yang ditahan itu tidak bersalah karena mereka hanya membela diri dari aksi Salman (25) yang sudah sangat meresahkan masyarakat karena melakukan aksi pelecehan seksual yang oleh masyarakat disebut "kolor ijo".
Salman (25) meninggal akibat dihakimi massa pada 26 Februari lalu.
Menurut keterangan warga, sudah ada sekitar 40 warga yang telah jadi korban dari perbuatan tidak senonoh yang dilakukan Salman, antara lain para santri di pesantren, perempuan yang sedang sholat, perempuan yang sedang tidur di rumah dan sejumlah aksi bejad lainnya.
Akibatnya teror kolor ijo itu, tidak sedikit anak-anak perempuan yang tidak bersekolah karena trauma, masjid menjadi kosong karena para jemaahnya trauma diperlakukan tidak semestinya.
Bahkan diantara para korban kata mereka ada yang nekad meninggalkan kampung lantaran merasa trauma dan takut dengan aksi tersebut.
"Namun setelah Salman dibunuh, kondisi di daerah kita sudah kembali normal, para santri sudah kembali nyaman belajar, masjid sudah kembali terisi dan masyarakat tidak lagi resah," tambah Amir.
Mereka juga mengakui kasus teror kolor ijo tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian, namuan karena terkendala bukti akhirnya kasus tesrebut mandek.
Dari situlah menurut Amir, mereka warga akhirnya nekad melakukan aksi brutal terhadap Salman yang akhirnya meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.
Medengar aspirasi warga tersebut, Ketua Komisi A, H Salman mengaku akan menidak lanjuti aspirasi tersebut. Ia mengaku akan meneruskan aspirasi warga tersebut kepada yang berwenang.
"Aspirasi bapak dan ibu tentu akan kita perhatikan, tapi soal tuntutan pembebasan tahan itu bukan wilayah kita, itu wilayah hukum, dan hanya pihak berwajib yang berwenang memutuskan persoalan itu. Tapi tuntutan bapak dan ibu tetap akan kita tindak lanjuti,"jelas legislator dari PBR tersebut.
Setelah berdialog panjang lebar akhirnya para warga asal Desa Padang Loang, Sidrap tersebut meninggal Gedung DPRD dengan tertib.
(T.PSO-098/B013)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
