Banjarmasin (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) menegaskan pengelolaan Geopark Meratus usai ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) harus berdampak kepada kesejahteraan warga masyarakat.
“Penetapan Geopark Meratus sebagai UNESCO Global Geopark sebagai langkah awal bersama untuk menjaga kelestarian warisan geologi, alam dan budaya, sekaligus mendorong manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” ujar Tenaga Ahli Gubernur Kalimantan Selatan sekaligus pencetus Geopark Meratus, Nurul Fajar Desira dikonfirmasi di Banjarmasin, Sabtu.
Fajar mengatakan status Geopark Meratus sebagai UGGp merupakan kebanggaan, namun memiliki tanggung jawab besar bagi Kalsel untuk memperkuat pengelolaan warisan geologi kawasan Meratus yang berkelanjutan hingga bermanfaat bagi masyarakat.
Ia menjelaskan pengelolaan kawasan Meratus berorientasi pada tiga pilar utama UNESCO, yaitu konservasi, pendidikan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Pemprov Kalsel mendorong masyarakat merasakan langsung perekonomian dengan keberadaan Geopark Meratus, seperti pengembangan produk lokal, jasa wisata berbasis alam dan budaya, hingga atraksi budaya yang lebih dikenal luas.
"Selain itu, masyarakat Banua diharapkan semakin mengenal nilai historis dan kebanggaan terhadap kekayaan alam dan budaya sendiri,” tutur Fajar.
Sejalan dengan pedoman UNESCO, pengelolaan kawasan Geopark Meratus tidak lepas dari evaluasi berkelanjutan secara rutin, karena tim UNESCO melakukan revalidasi pada 2028 untuk menilai pengelolaan kawasan berjalan sesuai standar atau tidak.
Hasil penilaian asesor tahun lalu pun diungkapkan Fajar, menyisakan beberapa catatan penting yang kini menjadi prioritas pemerintah daerah untuk membenahi kekurangan pengelolaan Geopark Meratus dari penilaian UNESCO.
Pemprov Kalsel bersama seluruh pemangku kepentingan pada tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota berkolaborasi dan berinovasi, seperti peningkatan infrastruktur dan fasilitas di situs geopark.
Kemudian, pengembangan riset biodiversitas hutan hujan tropis Meratus di Kahung dan Loksado, serta memperkuat program-program edukasi tentang nilai ilmiah Geopark Meratus.
Fajar menekankan upaya tersebut semakin memperkuat posisi Geopark Meratus tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi kawasan pendidikan dan konservasi yang memiliki dampak luas terhadap pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Dia juga menegaskan pentingnya peran serta masyarakat, terutama generasi muda dan akademisi untuk menjaga kelestarian kawasan Geopark Meratus karena menjadi salah satu kunci keberhasilan pengelolaan Geopark Meratus.
Salah satu program yang digulirkan Pemprov Kalsel untuk melibatkan generasi muda melalui Geopark Goes to School dan Edutalk yang menyasar sekolah dan perguruan tinggi.
"Banyak siswa dan mahasiswa yang sudah melakukan studi dan riset di kawasan Meratus,” tutur Fajar.
Pada tingkat tapak, lanjutnya, pengelolaan situs geopark juga melibatkan site manager dan masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut karena memiliki peran penting sebagai penjaga warisan alam dan budaya yang dimiliki Banua.
Selain itu, Pemprov Kalsel juga membentuk Meratus Geopark Youth Forum sebagai wadah bagi generasi muda untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan berpartisipasi aktif pada berbagai program pembangunan berkelanjutan, mitigasi bencana, hingga perlindungan lingkungan.
Sehingga, masyarakat lebih sadar terhadap isu penting seperti keberlanjutan, pelestarian warisan geologi, budaya, hayati dan lingkungan.
UNESCO menobatkan Geopark Meratus Kalsel menjadi UGGp pada Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-221 di Paris, Prancis, 2–17 April 2025.
Berdasarkan catatan Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) Kalsel, Geopark Meratus memiliki 54 situs terbagi pada empat rute, yakni Barat, Utara, Timur dan Selatan.

