
Menag harap MQKI 2025 di Wajo jadi awal kebangkitan peradaban Islam modern

Makassar (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berharap Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 di Pesantren As’adiyah di Wajo, Sulawesi Selatan, menjadi awal kebangkitan dari peradaban Islam modern.
"Kita berharap MQK Internasional dapat melahirkan kembali generasi ilmuwan muslim yang bukan hanya piawai membaca kitab, tetapi juga mampu memberi solusi atas tantangan zaman, menjaga perdamaian, dan melestarikan lingkungan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Wajo, Kamis.
Menag mengungkapkan jika sejarah telah mencatat pada masa Khalifah Harun al-Rasyid di Baghdad banyak lahir ilmuwan besar, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Farabi, hingga Ibnu Rusydi
Ia menegaskan urgensi pelaksanaan MQK tidak hanya sebatas pada penguasaan kitab kuning, melainkan lebih jauh bertujuan mencetak generasi pewaris kitab turats yang mampu membentuk karakter kebangsaan.
Ajaran turats adalah kekayaan intelektual umat Islam terdahulu yang tertuang dalam kitab-kitab, manuskrip, dan karya ilmiah para ulama, mencakup berbagai bidang ilmu keislaman dan pemikiran, yang berfungsi sebagai warisan dan panduan untuk memahami ajaran Islam secara autentik dan menghadapi tantangan zaman.
"Ini menjadi momentum bersejarah, karena untuk kali pertama santri Indonesia berkompetisi membaca kitab kuning bersama delegasi internasional," katanya.
Menurutnya, warisan keilmuan pesantren memiliki peran fundamental dalam perjalanan bangsa Indonesia, bahkan sejak awal kedatangan Islam di Nusantara.
MQK Internasional 2025 mengusung tema merawat lingkungan dan menebar perdamaian dilaksanakan selama sepekan pada 1-7 Oktober 2025 di Kabupaten Wajo.
Menag menyebut pesantren telah dikenal sejak abad 14 bersamaan dengan proses penyebaran Islam di kepulauan Nusantara.
"Seandainya tidak ada kecelakaan sejarah, mungkin yang lebih dikenal di Indonesia bukanlah universitas-universitas umum, melainkan pesantren besar seperti yang ada di Jombang, As’adiyah di Sulawesi Selatan, dan pesantren lainnya, yang sejak dulu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan," ucap Menag.
Menag menyatakan MQK Internasional adalah diplomasi budaya pesantren untuk meneguhkan Islam rahmatan lil-‘alamin di mata dunia.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
