Logo Header Antaranews Makassar

Pengunjung TWA Bantimurung harus waspada, ada penjual memaksa beli suvenir dengan harga selangit

Minggu, 23 November 2025 08:16 WIB
Image Print
Seorang pengunjung sedang mengunjungi museum kupu-kupu yang berada di dalam lokasi wisata Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (ANTARA/Riski Maruto/25)

Makassar (ANTARA) - Pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Bantimurung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, harus waspada terutama kepada penjual cindera mata kupu-kupu yang seolah memaksa wisatawan untuk membelinya dengan harga lebih tinggi.

Hal ini diungkapkan Wati, salah satu pengunjung TWA Bantimurung belum lama ini.

Pengunjung asal Pulau Jawa ini merasa penjual cindera mata ini telah memantau atau memerhatikan dirinya dan keluarganya sesaat setelah memasuki gerbang pembelian tiket.

"Mungkin dia tahu kami bukan warga lokal, terlebih lagi dengan gaya bicara kami yang berbeda jauh dengan logat Sulawesi," katanya.

Penjual pria itu memang ramah dan membantu mengambil foto beberapa kali Wati dan keluarganya.

"Namun dia terus mengikut kami seolah menjadi guide dengan mengantar menuju goa yang ada di sebelah air terjun. Sebenarnya tanpa dia memandu pun kami sudah tau arah menuju goa karena ada petunjuknya," katanya.

Selama perjalanan, seorang juru foto juga ikut nimbrung ke rombongan Wati dengan mengambil beberapa jepretan foto.

Hal itu berlangsung hingga menuju goa sampai pulang kembali.

Begitu akan pulang setelah puas menjelajahi Bantimurung, Wati langsung disodori satu set cindera mata berupa kupu-kupu yang dibekukan di dalam resin bening.

Harganya tak tanggung-tanggung Rp300 ribu untuk satu set cindera mata yang berisi 10 keping kupu-kupu aneka jenis dan warna.

Setelah melalui diskusi panjang (bisa dibaca perdebatan), akhirnya Wati sepakat membeli cindera mata itu seharga Rp250.000 karena juga memperhitungkan penjual bergaya guide itu telah mengantar hingga ke bibir goa sambil cerita seputar Bantinurung.

Sementara, juru foto yang juga turut mengawal hanya mematok jasa Rp50 ribu untuk 10 hasil jepretan yang bisa dikirim ke handphone. "Ini masuk akal, yang tidak masuk akal harga kupu-kupu tadi," ujar Wati yang baru pertama kali mengunjungi TWA Bantimurung ini.

Begitu telah dibayar, penjual kupu-kupu tadi terlihat sumringah. Kami pun bergegas untuk istirahat dan sholat di mushola yang ada di taman wisata itu.

Begitu selesai sholat, Wati memandang sekeliling, penjual kupu-kupu hias tidak terlihat di lokasi wisata.

Wati dan keluarganya pun keluar pintu gerbang dan mengunjungi kios suvenir resmi yang berjajar sebelum pintu masuk lokasi wisata.

Begitu terkejutnya Wati, begitu mengetahui harga satu set hiasan kupu-kupu di toko suvenir cuma Rp100.000. "Wow, kita kena prank," bisik Wati kepada suaminya.

Dari pengalaman ini, Wati mengimbau calon pengunjung TWA Bantinurung lainnya untuk lebih waspada dan berani tegas menolak kepada penjual suvenir berkedok guide.

"Kalau dijual selisih Rp50 ribu, sebenarnya tak masalah. Tapi ini selisihnya sudah Rp150 ribu," ketusnya.

Bisa saja, Wati bukan satu-satunya pengunjung TWA Bantimurung yang menjadi korban saat berwisata.

Olehnya, dia berharap pemerintah setempat melalui dinas pariwisata dan pengelola TWA Bantimurung agar bisa menertibkan para penjual suvenir yang mematok harga seenaknya. "Ini demi citra baik Bantimurung mengingat lokasi ini sudah terkenal hingga ke manca negara," ujarnya.

Satu tiket untuk masuk TWA Bantimurung sendiri sebesar Rp35 ribu per orang. Lokasinya bisa ditempuh sekitar satu jam dari Kota Makassar dan ramai dikunjungi tiap akhir pekan dan saat musim liburan.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026