Logo Header Antaranews Makassar

1 dari 10 ribu penduduk di Sulbar penderita kusta

Senin, 29 Desember 2025 20:40 WIB
Image Print
Penari menampilkan tarian Topeng Labu pada pertunjukan seni Festival Tabun Tawar 8 Lawang Sejerangan di kawasan wisata Lubuk Penyengat, Desa Baru, Muaro Jambi, Jambi, Sabtu (5/10/2024). Tarian ini diangkat dari cerita turun temurun masyarakat Desa Muara Jambi tentang kerinduan para penderita kusta kepada keluarga saat mereka diasingkan ke hutan pada masa lampau. (ANTARA/Wahdi Septiawan)

Mamuju (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat dr Nursyamsi Rahim menyampaikan, prevalensi kusta di Sulbar masih cukup tinggi, yakni 1,58 per 10 ribu penduduk.

"Angka tersebut menunjukkan masih adanya penularan aktif di masyarakat, sehingga upaya pencegahan dan pengendalian harus terus diperkuat," kata Nursyamsi, di Mamuju, Senin.

Berdasarkan data Sistem Informasi Penyakit Kusta (SIPK) tahun 2025, angka prevalensi kusta di Provinsi Sulbar tercatat 1,58 per 10 ribu penduduk, dengan total penderita terdaftar sebanyak 230 orang yang tersebar di enam kabupaten.

Secara rinci, penderita kusta terbanyak di Kabupaten Polewali Mandar, yakni 113 orang, disusul Kabupaten Majene 42 orang, Kabupaten Pasangkayu 30 orang, Kabupaten Mamuju 27 orang, Kabupaten Mamuju Tengah 17 orang dan satu orang di Kabupaten Mamasa.

Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar kata Nursyamsi, terus mendorong penemuan kasus secara aktif, penguatan peran puskesmas serta edukasi masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri.

"Pengendalian kusta menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mencegah kecacatan akibat keterlambatan penanganan," ujar Nursyamsi.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulbar juga tambahnya, mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah kabupaten, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat dan keluarga untuk bersama-sama menghilangkan stigma terhadap penderita kusta.

Kemudian, mendorong pemeriksaan dini bila ditemukan gejala serta mendukung penderita agar menjalani pengobatan sampai tuntas.

Kusta lanjut Nursyamsi, bukan penyakit kutukan atau keturunan, melainkan penyakit infeksi yang bisa dicegah dan ditangani dengan pengobatan teratur.

"Pengobatan kusta tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan. Tantangan terbesar kita saat ini bukan hanya pada pengobatan, tetapi pada deteksi dini, kepatuhan berobat, serta penghapusan stigma di masyarakat," jelas Nursyamsi.

Dinas Kesehatan kata Nursyamsi, terus mendorong penemuan kasus secara aktif, penguatan peran puskesmas, serta edukasi masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri.

"Dengan kolaborasi dan kepedulian bersama, kita optimistis Sulawesi Barat dapat menurunkan prevalensi kusta secara signifikan dan mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, dan bermartabat," ujar Nursyamsi.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026