Logo Header Antaranews Makassar

Forum silaturahmi BEM Makassar tolak gerakan anarkisme

Selasa, 16 Juni 2015 21:15 WIB
Image Print
"Tujuan dari aksi mahasiswa sejalan dengan butir kelima Pancasila yakni keadilan sosial...

Makassar (ANTARA Sulsel) - Puluhan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas kampus mengatasnamakan forum silaturahmi BEM se Makassar merancang gerakan tolak anarkisme setiap aksi demonstrasi yang berujung anarkis dan chaos di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Tujuan dari aksi mahasiswa sejalan dengan butir kelima Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, inilah cita-cita yang kami ingin diwujudkan. Tapi, gerakan itu selalu dirusak pihak-pihak tertentu," kata Sekertaris Jenderal BEM Universitas Muhammadiyah Haerul Ramadhan di Makassar, Selasa.

Pertemuan dikemas dalam bentuk dialog kemahasiswaan dan FGD bertemakan "Quo vodis gerakan mahasiswa Makassar" di Gedung Al Iqra, Kampus Unismuh Makassar ini, Haerul berharap gerakan mahasiswa bisa lebih baik dan tidak lagi melakukan aksi demonstrasi anarkis.

"Kampus Unismuh hanya satu dari banyak kampus yang ada di Makassar, mahasiswa melakukan demo adalah bagian dari demokrasi, tapi aksi demo yang berujung bentrok bukan keinginan mahasiswa, tapi ada didesain pihak tertentu merusak citra mahasiswa Makassar, khususnya di Unismuh," katanya.

Sementara Dosen Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Dr dr Sudirman Nasir PhD pada kesempatan itu berbicara tentang gerakan mahasiswa adalah sangat penting. Karena di sinilah tempat kaum muda yang memiliki banyak potensi. Apalagi Indonesia memiliki demografi, yaitu zaman dimana kaum muda tidak dibebani untuk menanggung seseorang.

Menurut dia, era saat ini mahasiswa Makassar mengalami fase pesimistis, karena hilangnya kepercayaan atau pencitraan di tengah masyarakat. Sehingga mahasiswa mulai memcari cara agar menjadi perhatian umum.

"Saya tetap optimistis, saya melihat masih banyak mahasiswa berprestasi di Kota Makassar seperti, anak Unhas yang bisa menjadi juara cerpen dan membuat robot, inilah prestasi yang tidak kalah dengan daerah lainnya," paparnya.

Ia menyebutkan mengapa sejak 15 tahun terakhir selalu muncul tradisi aksi bakar ban, mungkin sulit dikaitkan secara logis apa sebenarnya yang diperjuangkan mahasiswa dengan melakukan hal seperti itu.

Padahal jauh sebelumnya aksi bakar ban dan mengganggu arus lalu lintas tidak pernah terjadi sebelumnya apalagi berujung pada aksi pembakaran dan pengrusakan, tentu ini tidak menjawab apa yang diperjuangkan mahasiswa hari ini.

"Ada dua hal yang berubah pada 15 tahun terakhir, yakni kondisi politik dan sistem penyampaian aspirasi. Mahasiswa tidak lagi harus membakar, menutup jalan maupun melakukan aksi anarkis. Sebab, di negara kita tidak ada lagi musuh bersama, ini bukan lagi zaman diktator," harapnya.

Penyampaian apirasi saat ini, kata dia sifatnya lebih terbuka. Bisa melalui media sosial, dan surat elektronik sehingga tak ada alasan logis mahasiswa melakukan bakar ban dan menutup jalan.

"Aspirasi anda kan bisa langsung sampai tanpa batas, ini baik dilakukan melalui media sosial ataupun literasi dalam menyampaikan kritikan," sebutnya.

Gerakan mahasiswa itu tegasnya, bukan hanya melakukan demonstrasi, tapi pada penyampaian aspirasi yang lebih kreatif karena pemerintahan saat ini sudah sangat terbuka. Tantangan terbesar mahasiswa hari ini adalah kualitas dan kompetensi.

"Kalau mau didengar, kita harus bisa mengelola dan memilih isu yang baik, dan mengelolanya secara kreatif. Jika tak mau tergeser di masyarakat, mahasiswa harus bisa bersaing dalam dunia kerja dan memiliki keahlian/ketrampilan menghadapi MEA," tambahnya.

Senada Praktisi Media AS Kambie pada kesempatan itu juga berpendapat bahwa demo harus dilakukan ketika saluran komunikasi tersebut mandek atau terhenti. Jika telah melakukan lobi, bersurat untuk meminta berdialog, tapi tak ada respon, disitulah demontrasi dihalalkan namun aksi harus teratur.

Ia meminta mahasiswa untuk tidak turun ke jalan hanya ingin belajar berbicara dan berteriak di pinggir jalan. Sebab, teriakan mahasiswa tak ada apa-apanya jika dibandingkan kritik dari anggota dewan.

"Saat ini, anggota dewan sudah sangat kritis, bahkan sudah sangat kasar ketimbang mahasiswa. Sebagai mahasiswa kita manfaatkan saja anggota dewan tersebut dalam menyuarakan aspirasi bukan melakukan tindakan anarkis," ucapnya.

Menurut dia, derajat mahasiwa di mata masyarakat saat ini berada dikasta terendah. Di mana opini terbentuk, mahasiswa itu hanya suka berkelahi dan bakar ban di pinggir jalan dan merusak fasilitas umum.

"Bahkan parahnya lagi, tukang becak pun tidak mau disamakan dengan mahasiswa, betapa buruknya orang menganggap mahasiswa itu biang kerusuhan dan kemacetan jalan, apalagi sering bentrok sama aparat keamanan," katanya.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026