
Polewali Mandar mulai dikepung asap

"Kebakaran hutan lindung di Kecamatan Anreapi terjadi sejak beberapa waktu lalu...
Polewali Mandar, Sulbar (ANTARA Sulbar) - Sebagian wilayah Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mulai dikepung asap akibat kebakaran hutan.
"Kebakaran hutan lindung di Kecamatan Anreapi terjadi sejak beberapa waktu lalu. Dampaknya kini mulai dirasakan oleh sebagian warga," kata Firman salah seorang warga Polewali Mandar, Senin.
Asap mengepung jalan trans-Sulawesi yang membelah kota Polewali. Bahkan, abut asap terlihat sangat pekat dan membuat jarak pandang tersisa sekira 200 meter saja.
"Saya juga kaget tiba-tiba banyak asap, ternyata ada kebakaran hutan. Mata sangat perih dan ini tentu sangat berbahaya bagi kesehatan," ungkap Firmani.
Hal senada juga dikeluhkn Gazali. Pria yang sehari-hari bekerja di salah satu instansi di Polewali Mandar itu menggunakan masker agar tidak sesak nafas.
Si jago merah masih menghanguskan lahan hutan lindung di Anreapi, Polewali Mandar. Bahkan, informasi yang diperoleh, api telah menghanguskan lebih dari 500 hektare.
Kebakaran hutan lindung dan lahan perkebunan milik masyarakat di Kabupaten Polewali Mandar membuat Bupati Polman, Andi Ibrahim Masda risau lantaran minimnya respon dari pemerintah provinsi setempat.
Andi Ibrahim menyebutkan, pemerintah Provinsi belum memberikan bantuan apapun terkait bencana kebakaran yang terjadi di Polman.
"Sampai sekarang belum ada respon dari Pemprov. Jangankan membantu, menelepon saja tidak. Tidak ada kepedulian Pemprov, alasannya tidak ada perintah," sebut politikus Golkar ini.
Untuk menagulangi kebakaran tersebut, ia telah memerintahkan Satpol PP untuk tetap berada di lokasi bencana.
"Saya sudah juga sudah siagakan Satpol PP. Saya perintahkan Satpol PP untuk tidak pulang," ucap Ibrahim.
Ia menyebutkan, saat ini pihaknya telah memasang tenda di dalam hutan. Untuk memadamkan api, Pemkab Polewali Mandar dibantuPlori dan TNI.
Pewarta : Aco Ahmad
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
