Makassar (ANTARA) - Deputi Deputi Bidang Pelatihan, penelitian dan pengembangan (Lalitbang) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Pusat Prof Muhammad Rizal Martua Damanik menegaskan bahwa Rapat Kerja Daerah (Rakerda) BKKBN Sulawesi Selatan (Sulsel) digelar untuk memperkuat Program Bangga Kencana guna menekan angka stunting atau kekerdilan. 

"Penguatan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana atau Bangga Kencana ini sangat penting untuk menurunkan angka stunting," kata Prof Rizal Martua pada Rakerda BKKBN Sulsel di Makassar, Rabu. 

Dia mengatakan persoalan stunting bukan hanya tugas BKKBN saja, tetapi juga menjadi tugas bersama untuk mempersiapkan 1000 hari pertama kelahiran atau masa emas kehidupan, sehingga  membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. 

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut dia, pihaknya sangat mengapresiasi para kader, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan semua pihak yang berperan menciptakan generasi yang sehat untuk masa depan bangsa dan negara di masa mendatang.

Mengenai tugas pokok jajaran di bawah Litbang BKKBN, kata Rizal, yakni membantu percepatan penurunan prevalensi stunting, dan perlu menguatkan tiga pilar kelompok binaan yakni Bina Keluarga Balita (BKB),  Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluarga Lansia (BKL).

"Melalui BKB, disebarkan tenaga di lapangan untuk mengedukasi ibu dan ayah untuk mempersiapkan dirinya dan kandungannya," katanya.

Sedangkan pilar kedua BKR tantangannya sangat besar sekali masalah keluarga tentang pernikahan dini dan narkoba, agar remaja ini bisa menjadi lolos dan memasuki orang tua yang hebat.  

Untuk pilar ketiga yaitu BKL dengan mempersiapkan pasangan orang tua hebat dan tidak menjadi lansia yang sakit-sakitan alias menjadi lansia yang tangguh. 

Dia juga mengatakan ketiga pilar itu bagian dari Program Bangga Kencana yang saling mendukung untuk menurunkan angka prevalensi stunting di lapangan. 

Hal itu mengingat data dari Riset Kesehatan Dasar 2007 bahwa prevalensi stunting masih tinggi yakni 37 persen. Artinya dari 100 kelahiran ada 37 bayi yang sudah mengalami stunting.

Selanjutnya pada 2021, lanjut Rizal, angka prevalensi stunting sudah turun menjadi 24,2 persen. Sementara yang dipersyaratkan organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) 20 persen. 

"Jadi, angka prevalensi stunting 24,4 persen secara nasional ini masih tinggi, bahkan di Sulsel seharusnya jauh di bawah angka nasional," katanya. 
  Deputi Lalitbang BKKBN Pusat, Prof Muhammad Rizal Martua Damanik (kiri) pada Rakerda BKKBN Sulsel di Makassar, Rabu (16/3/2022).