Kadis Kesehatan Sidrap : Gizi kronis dan infeksi penyebab utama Stunting
Senin, 28 November 2022 6:21 WIB
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sidrap, Dr Ns H Basra, S.Kep, M.Kes. Antara/ HO-BKKBN Sulsel
Makassar (ANTARA) - Kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang menjadi penyebab utama terjadinya Stunting. kata Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sidrap, Dr Ns H Basra, S.Kep, M.Kes,
"Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang," kata Basra menanggapi pemicu terjadinya Stunting pada anak di manapun berada termasuk di Kabupaten Sidrap, Minggu.
Dia mengatakan, kondisi itu ditandai dengan panjang atau tinggi badan seorang anak yang berada di bawah anak seusianya atau standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
“Perlu ditegaskan bahwa anak pendek belum tentu Stunting, tetapi anak stunting sudah tentu pendek, hal ini bisa terjadi karena memang anak tersebut pendek karena genetic tetapi tidak Stunting,” jelasnya.
Bukan hanya tinggi badan yang terhambat, lanjut dia, tetapi pertumbuhan otak juga tidak akan berkembang sehingga akibat buruknya, anak akan sulit belajar, tidak cerdas dan sulit konsentrasi, dan kalau Stunting telah terjadi yang bisa dilakukan hanya memperbaiki gizi agar dampaknya tidak lebih besar.
Dia menambahkan, kasus Stunting dapat terjadi akibat anak tersebut sulit mendapatkan akses terhadap gizi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas karena faktor ekonomi orang tua ataupun kurang pengetahuannya keluarga terkait pola asuh dan pola makan yang baik.
“Stunting tidak hanya terjadi pada keluarga yang kurang mampu, banyak keluarga yang berada tetapi anaknya Stunting, ini menggambarkan Stunting bukan hanya masalah ekonomi tetapi terkait pola asuh dan pola makan yang salah,” jelas Basra.
Ditambahkan saat ini angka prevalensi Stunting Sidrap berdasarkan data SSGI tahun 2021 sebesar 25,4 persen, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas toleransi stunting suatu negara hanya 20 persen.
Terkait penaganan Stunting di Kabupaten Sidrap, Basra menuturkan telah mengembangkan inovasi "Sahabat Stunting" atau "Saya Hadir Buat Stunting" merupakan program pendampingan dengan sasaran ibu hamil, ibu nifas, anak balita dan remaja putri melalui pemberian edukasi dan layanan kesehatan terkait pencegahan stunting.
Lewat program Sahabat Stunting ini, lanjut dia, Dinkes akan memberikan layanan kesehatan, edukasi, deteksi dini resiko stunting, pelayanan rujukan perawatan dan pemberdayaan masyarakat.
Berita ini juga telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kadis Kesehatan: Gizi kronis dan infeksi penyebab Stunting
"Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang," kata Basra menanggapi pemicu terjadinya Stunting pada anak di manapun berada termasuk di Kabupaten Sidrap, Minggu.
Dia mengatakan, kondisi itu ditandai dengan panjang atau tinggi badan seorang anak yang berada di bawah anak seusianya atau standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
“Perlu ditegaskan bahwa anak pendek belum tentu Stunting, tetapi anak stunting sudah tentu pendek, hal ini bisa terjadi karena memang anak tersebut pendek karena genetic tetapi tidak Stunting,” jelasnya.
Bukan hanya tinggi badan yang terhambat, lanjut dia, tetapi pertumbuhan otak juga tidak akan berkembang sehingga akibat buruknya, anak akan sulit belajar, tidak cerdas dan sulit konsentrasi, dan kalau Stunting telah terjadi yang bisa dilakukan hanya memperbaiki gizi agar dampaknya tidak lebih besar.
Dia menambahkan, kasus Stunting dapat terjadi akibat anak tersebut sulit mendapatkan akses terhadap gizi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas karena faktor ekonomi orang tua ataupun kurang pengetahuannya keluarga terkait pola asuh dan pola makan yang baik.
“Stunting tidak hanya terjadi pada keluarga yang kurang mampu, banyak keluarga yang berada tetapi anaknya Stunting, ini menggambarkan Stunting bukan hanya masalah ekonomi tetapi terkait pola asuh dan pola makan yang salah,” jelas Basra.
Ditambahkan saat ini angka prevalensi Stunting Sidrap berdasarkan data SSGI tahun 2021 sebesar 25,4 persen, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas toleransi stunting suatu negara hanya 20 persen.
Terkait penaganan Stunting di Kabupaten Sidrap, Basra menuturkan telah mengembangkan inovasi "Sahabat Stunting" atau "Saya Hadir Buat Stunting" merupakan program pendampingan dengan sasaran ibu hamil, ibu nifas, anak balita dan remaja putri melalui pemberian edukasi dan layanan kesehatan terkait pencegahan stunting.
Lewat program Sahabat Stunting ini, lanjut dia, Dinkes akan memberikan layanan kesehatan, edukasi, deteksi dini resiko stunting, pelayanan rujukan perawatan dan pemberdayaan masyarakat.
Berita ini juga telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kadis Kesehatan: Gizi kronis dan infeksi penyebab Stunting
Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tidak jujur soal kesehatan, enam calon petugas haji dipulangkan dari diklat
16 January 2026 5:52 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemkot Makassar dan Balai Cipta Karya bahas hibah alat deteksi air JICA Jepang
28 January 2026 5:19 WIB
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
27 January 2026 18:21 WIB
Pemprov Sulsel serahkan santunan kepada keluarga Farhan korban kecelakaan ATR 42-500
27 January 2026 15:08 WIB
Efisiensi pendidikan, Rektor Unhas minta identifikasi mahasiswa lambat studi
27 January 2026 4:47 WIB
Demo pemekaran Luwu Raya lumpuhkan pasokan BBM, harga pertalite Rp35.000/liter
26 January 2026 18:37 WIB