Industri minyak sawit membutuhkan riset entomologi

id industri minyak sawit,butuhkan riset entomologi

Seminar Nasional PEI (Perhimpunan Entomologi Indonesia) yang mengambil tema 'Serangga untuk Pertanian Berkelanjutan dan Kesehatan Lebih Baik' yang dilaksanakan di Palembang Sumatera Selatan, Kamis 12/7) (Istimewa)

Entomologi atau ilmu tentang serangga menjadi signifikan dalam industri kelapa sawit
Palembang (Antaranews Sulsel) - Industri minyak sawit memiliki andil yang signifikan dalam pengembangan ekonomi daerah dan nasional serta pengentasan kemiskinan di berbagai pelosok negeri.

Namun faktor pembatas produksi khususnya serangan hama acapkali menjadi kendala di lapangan.

“Entomologi atau ilmu tentang serangga menjadi signifikan dalam industri kelapa sawit,” kata Bandung Sahari, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang juga merupakan Vice President of Sustainability PT Astra Agro Lestari Tbk, saat Seminar Nasional PEI (Perhimpunan Entomologi Indonesia) yang bertema 'Serangga untuk Pertanian Berkelanjutan dan Kesehatan Lebih Baik' pada Kamis (12/7).

Tantangan yang dihadapi oleh industri agribisnis seperti kelapa sawit salah satunya adalah hama.

"Hama mengganggu proses pertumbuhan tanaman sehingga produktivitas kelapa sawit menjadi turun. Hal ini menyebabkan pendapatan masyarakat juga menurun yang mengancam kesejahteraan masyarakat. Jika tidak segera ditangani dengan baik dalam jangka panjang akan mengancam keberlanjutan produktivitas minyak sawit dan lingkungan jika pestisida menjadi pilihan utama," paparnya.

"Oleh karena itu penelitian yang menunjang pengendalian hama ramah lingkungan menjadi urgent. proses polinasi (penyerbukan) pada kelapa sawit juga sangat bergantung dengan serangga. Tidak efektifnya penyerbukan menyebabkan banyaknya buah partenokarpi (tidak berbiji) dengan kandungan minyak yang rendah," jelas Bandung Sahari.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Entomologi Indonesia Prof Dr Damayanti  Buchori mengatakan, dari penelitian global, serangga polinator sedang mengalami penurunan populasi global.

Penelitian itu lanjutnya juga mengungkap bahwa penurunan populasi serangga penyerbuk akan berdampak pada pangan, termasuk juga tanaman kelapa sawit.

"Ketidakadaan serangga penyerbuk bisa menjadi masalah yang berat bagi tanaman kelapa sawit. Hal ini juga perlu menjadi perhatian serius stakeholder industri kelapa sawit," kata Damayanti.

Damayanti Buchori juga mengatakan riset entomologi untuk sawit perlu dikembangkan lebih lanjut, selain untuk menjaga tanaman budidaya, juga pada akhirnya memberikan manfaat kepada masyarakat.

"Indonesia memiliki ahli-ahli serangga yang mumpuni, hanya saja masih sedikit yang menekuni sawit. Ke depan keterlibatan lebih banyak para ahli serangga ini dalam menghasilkan temuan-temuan baru yang bisa diaplikasikan untuk pengendalian hama ramah lingkungan," ujar Damayanti.

Sedangkan Ketua Penyelenggara Seminar Prof Dr Siti Herlinda menyatakan, penelitian mengenai serangga pada industri kelapa sawit saat ini masih sangat sedikit.

"Saat ini, Malaysia terdepan dalam penelitian tentang serangga pada kelapa sawit. Kita masih banyak mengggunakan penelitian-penelitian dari Malaysia," ucap Siti Herlinda.

"Dalam Seminar kali, kami mengangkat pentingnya riset sawit untuk mendorong produktivitas sehingga kita memiliki banyak referensi dalam negeri," imbuhnya.

"Pengendalian hama sawit perlu pendekatan holistik secara lanskap dengan pengolaan habitat dan relung musuh alami hama tersebut. Sehingga konservasi musuh secara luas efektif mengendalikan hama sawit," terang Siti Herlinda.        (*)
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar