Logo Header Antaranews Makassar

Sindikat Penipuan SMS Berhadiah Diringkus Polisi

Rabu, 24 Desember 2008 15:08 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Satuan unit khusus Mapolwiltabes Makassar yang dipimpin langsung oleh Kanit Khusus, AKP Rafiuddin berhasil meringkus tujuh orang pelaku penipuan SMS berhadiah, Rabu.
Tujuh orang pelaku penipuan yakni, MA (24), Is (20), Amr (20), Amn (18), Zul (24), Mus (22), Nur (21). Ketujuh orang tersangka ini berasal dari Belawa, Kabupaten Wajo.

Penangkapan ini berdasarkan pengaduan masyarakat tentang banyaknya warga yang menjadi korban penipuan, bahkan adanya warga yang rela dijadikan umpan untuk memancing para tersangka tersebut.

Kapolwiltabes Makassar, Kombes Pol Burhanuddin Andi mengatakan, sindikat penipuan ini berhasil tertangkap karena sikap proaktif masyarakat yang memberikan informasi.

"Kami bisa meringkus para pelaku penipuan ini karena peran serta masyarakat. Jadi kami berharap kepada masyarakat untuk bisa proaktif memberikan informasi, dan sekecil apa pun itu akan kami tindaklanjuti," ujarnya.

Menurut pengakuan pelaku kepada polisi, aksi ini sudah dilakukan sekitar setahun silam. Para pelaku sering berpindah-pindah, dan terakhir mereka mengontrak sebuah rumah di perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar.

"Ketujuh orang pelaku ini punya peran masing-masing, ada yang mengaku sebagai operator, notaris, pihak kepolisian dan Direktur Utama Bank Indonesia," katanya.

Bahkan MA, lanjut Burhanuddin, mengaku sebagai AKBP Mulyadi yang tidak lain adalah Wakil Direktur (Wadir) Reskrim Polda Sulsel. MA juga sempat mengaku sebagai dirinya dan berhasil menipu satu orang korban.

Menurut mantan Kapolwiltabes Parepare ini, modus yang digunakan pelaku dengan memasukkan dan mengirimkan nomor layanan pesan singkat (SMS).

"Para pelaku yang beraksi selama setahun ini diduga telah meraup keuntungan banyak karena modus yang digunakan sangat rapi dan meyakinkan," katanya.

Polisi akan melakukan penyidikan terhadap ketujuh orang pelaku karena diduga ada pelaku penipuan lain yang masih berkeliaran, bahkan satu orang diantaranya Su adalah kakak MA.

"Para korban penipuan bukan hanya berasal dari wilayah Sulsel, tetapi juga tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Dari catatan pelaku, korbannya banyak berasal dari Medan (Sumatera Utara) dan Solok (Sumatera Barat), bahkan calon korban yang terakhir dari Makassar," ujarnya.

Selain itu, pihaknya menemukan juga satu kartu tanda anggota (KTA) polisi bernama Brigpol Har. "Menurut pengakuan tersangka, Brigpol Har ini sudah lama menjadi teman dari tersangka, karena itu polisi akan menyelidiki anggota tersebut," katanya. (T.PK-MH/E005)