Logo Header Antaranews Makassar

Bantaeng Jalin Kerjasama Perusahaan Bunga dan Hotel

Kamis, 25 Maret 2010 10:17 WIB
Image Print

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan menjalin kerjasama dengan perusahaan bunga untuk memasok kebutuhan bunga krisan bagi hotel di Makassar.

Kerjasama yang ditandatangani Kadis Pertanian dan Perternakan Dr Syamsul Alam dan Direktur Koya Garden Makassar Ny Yeni Ariani Saleh untuk penyediaan bunga potong.

Penandatanganan naskah kerjasama Memorandum of Understanding (MOU) awal pekan ini di Makassar, disaksikan Menteri Pertanian Ir H Suswono, MMA, Dirjen Hortikultura Dr Ir Dimyati, Ms, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan sejumlah petinggi lainnya.

Kerjasama kemitraan antarkedua belah pihak dilakukan untuk pemesanan bunga potong jenis krissan serta pembelian produk, sekaligus dengan kegiatan pembinaan teknis lainnya sebagai upaya pemenuhan bunga potong dalam menunjang program pengembangan agribis tanaman hias di Sulsel.

Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Sulsel, Ir Lutfi Halide berharap kerjasama tersebut dapat meningkatkan penghasilan petani bunga di Bantaeng, terlebih dengan adanya sinergi antara pengusaha bunga dengan hotel di Makassar melalui kerjasama antara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dengan Flora Club Makassar.

Untuk menjamin kualitas bunga dari Bantaeng, Dinas Pertanian dan Hortikultura Sulsel menyiapkan mobil box agar warna dan kesegaran bunga tidak berubah, jelas Lutfi Halide.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo juga menyambut baik kerjasama penjualan bunga yang sudah dimulai Kabupaten Bantaeng. Syahrul memuji kabupaten yang dipimpin HM Nurdin Abdullah tersebut yang sebelumnya juga sudah berhasil mengekspor produk perikanan Surimi Beku ke Jepang, biji kapuk ke Korea dan akan disusul ekspor talas juga ke Jepang.

"Alhamdulillah, kita juga sudah mencatat rekor Muri melalui penanaman dua juta pohon serta penebaran dua juta ekor ikan yang dipusatkan di Kabupaten Pangkep (22/3).

Komoditi lain yang berhasil memasukkan dana triliunan rupiah berasal dari beras yang berhasil mencapai overstock dua juta ton, disusul jagung 1,5 juta ton dan disusul produksi kakao melalu Gerakan Nasional Kakao di Sulsel.

Pertumbuhan di bidang pertanian dan perkebunan tersebut meningkatkan pendapatan ekonomi dari Rp9 juta menjadi Rp13 juta/kapita. "Ini belum termasuk keberhasilan ekspor udang ke Kanada," ucap Gubernur.

Meski begitu, untuk menjamin ketersediaan air, ia mengisyaratkan pembuatan embung.

"Kalau setiap kabupaten bisa membangun 10 unit embung, akan banyak tempat penyimpanan air secara sederhana dan biaya murah. Ini penting karena air adalah segalanya. Menghidupi banyak hal, ujarnya.

Menteri Pertanian Suswono pada kesempatan itu juga memuji keberhasilan yang dibina langsung Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, pertanian memiliki peran strategis, terutama menghadapi perubahan iklim.

Lahan padi di Indonesia kini mencapai 12 juta ton dan Sulsel menjadi andalan karena itu sangat lumrah bila subsidi petani tetap berjalan. "Di luar negeri juga begitu. Petaninya juga disubsidi pemerintah," ucap Mentan.

Ia kemudian mengingatkan Pemerintah Daerah (Pemda) agar menyiasati penggunaan lahan. "Jangan sampai lahan subur dijadikan perumahan. Carilah lahan marginal bila mau membangun rumah," terang Suswono.

Bila lahan dibenahi dan petani melakukan penanaman dengan benar, petani berhak menikmati hasil yang baik. Meski begitu, masyarakat juga perlu dibiasakan mengkonsumsi komoditi non beras.

Banyak tanaman yang memiliki sumber karbohidrat. Bila dibiasakan, konsumsi beras kita bisa menurun dan kelebihannya kita ekspor, urai Menteri. (T.KR-RY/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026