
Kapolda Sulselbar Berang Data Simpang Siur

Parepare (ANTARA Sulsel) - Kapolda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Irjen Pol Sisno Adiwinoto dalam kunjungannya di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), berang karena data jumlah penumpang KM Teratai Prima yang ditemukan simpang-siur.
"Data ini harus diperbaiki, harus ditulis besar-besar. Data yang sebenarnya baru 34 orang penumpang yang ditemukan, satu orang di antaranya meninggal," kata Kapolda Sulselbar di sela-sela kunjungannnya ke Posko Pelabuhan Parepare dan Polwil Parepare, Sulsel, Selasa.
Ia meminta agar pihak yang sudah memberikan keterangan jika sudah ada 35 orang penumpang KM Teratai ditemukan, segera meralat data tersebut.
Mengenai satu korban berjenis kelamin perempuan yang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa lagi, ia mengatakan, hingga saat ini belum berhasil diidentifikasi, besar kemungkinan korban tersebut adalah salah satu dari penumpang KM Teratai.
Pada kesempatan itu, ia memerintahkan agar tim identifikasi yang ada di Posko Parepare, Sulsel membagi diri membentuk sub tim identifikasi untuk ditempatkan di Posko Pelabuhan Majene, Sulbar agar mempercepat proses indentifiksi jika ada korban yang ditemukan.
"Jadi tim indentifikasi tidak perlu bolak-balik lagi dari Parepare ke Majene, begitu pula sebaliknya," tandasnya.
Mengenai hasil kunjungannya ke Polwil Parepare untuk meminta keterangan dari Nakhoda KM Teratai, Sabir dan sejumlah penumpang yang selamat, ia mengatakan, hingga saat ini status nakhoda kapal itu masih sebagai saksi.
"Jadi untuk peningkatan status menjadi tersangka belum sampai ke situ, statusnya masih sebagai saksi yang memberikan keterangan penyebab karamnya kapal yang dinakhodai," jelasnya.
Saat ini, kata dia, semua aparat masih terfokus pada upaya pencarian dan penyelamatan penumpang KM Teratai. Sehingga kenaikan status saksi menjadi tersangka bagi nakhoda kapal itu masih menunggu proses lebih lanjut.
Sementara penyebab karamnya kapal itu, kata dia, berdasarkan keterangan para saksi, kapal dari Pelabuhan Parepare tujuan Samarinda itu tenggelam karena hantaman angin puting beliung dan gelombang setinggi empat meter pada Minggu (11/1) sekitar pukul 03.00 WITA. (T.K-SUR/M015)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
