
Gubernur NTT: Perbaiki Fasilitas Bandara

Kupang (ANTARA Sulsel) - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya minta para kepala dinas perhubungan Kupang memperbaiki fasilitas bandar udara (bandara) di wilayah kerjanya masing-masing agar bisa melayani pesawat terbang jenis Fokker dan ATR-72.
"Jika landasan pacu run way baru mencapai 900 meter, harus diperhatikan untuk memperpanjang landasan tersebut, tetapi harus dilakukan secara bertahap," katanya dalam acara minum kopi pagi (coffee morning) bersama para kepala dinas perhubungan se-NTT di Kupang, Jumat.
Dalam acara yang dipandu Kadis Perhubungan NTT, Harry Teopilus itu, Gubernur Lebu Raya menyambut baik rencana maskapai penerbangan Lion Air untuk mengoperasikan pesawat jenis ATR-72 untuk melayani rute penerbangan domestik di provinsi kepulauan ini.
Pesawat jenis ATR-72 tersebut hanya bisa mendarat dan lepas landas pada bandara yang landasan pacunya mencapai 1.500 meter, seperti Bandara Haji Aroeboesman Ende, Waioti Maumere, Komodo Labuanbajo di Pulau Flores serta Mauhau Waingapu dan Tambolaka Sumba Barat Daya di Pulau Sumba.
Bandar udara lainnya seperti Gewayan Tanah Larantuka di Flores Timur, Wunopito Lewoleba di Lembata, Lekunik di Rote Ndao, Satar Tacik Ruteng di Manggarai, Soa di Ngada, Mali di Alor, dan Seba di Pulau Sabu, belum bisa didarati jenis pesawat tersebut, karena landasan pacunya hanya mencapai 900 meter.
Gubernur Lebu Raya kemudian mencontohkan saat terbang dari Bandara Lekunik Rote, pekan lalu, usai melantik Leonard Haning dan Marthen Luther Saek menjadi Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndao periode 2009-2014 dengan pesawat jenis ATR milik Trigana Air.
"Pesawat itu hanya bisa mengangkut 15 orang penumpang dari kapasitas tempat duduk (seat) yang ada karena landasan pacunya basah disiram hujan dengan ukuran panjang hanya 900 meter," katanya mencontohkan.
Dalam tahun ini, pemerintah Kabupaten Rote Ndao akan memperpanjang landasan bandara tersebut sejauh 600 meter sehingga bisa mencapai 1.500 meter.
Bandara Wunopito Lewoleba di Kabupaten Lembata, Pulau Lembata, misalnya, sulit untuk dikembangkan karena tuan tanah menolak tawaran pemda setempat untuk proses ganti rugi.
"Tuan tanah minta ganti rugi Rp200 miliar yang nilainya setara dengan APBD Lembata. Bagaimana mungkin hal ini bisa kami wujudkan untuk menata fasilitas bandara dengan lebih baik," kata Bupati Lembata, Andreas Duli Manuk beberapa waktu lalu di Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata.
Atas dasar itu, Gubernur NTT minta dinas perhubungan di masing-masing kabupaten/kota dapat menata fasilitas bandaranya secara bertahap agar bisa dilayani oleh pesawat jenis Fokker dan ATR-72.
Dalam musim penghujan saat ini, keadaan laut di wilayah perairan NTT sangat tidak bersahabat sehingga tranportasi udara menjadi andalan utama untuk bepergian ke daerah lain dalam wilayah NTT.
Menurut Kadis Perhubungan NTT, Harry Teopilus, sebuah perusahaan penerbangan lainnya "Afian Star" juga sedang mengurus proses izin penerbangan di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan untuk melayani lintas penerbangan wisata di NTT.
Rute penerbangan yang akan dilayani maskapai penerbangan tersebut adalah Kupang-Labuanbajo, Kupang-Maumere, Kupang-Ende dan Kupang-Tambolaka atau memiliki rute penerbangan yang sama dengan ATR-72 untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tujuan wisata (DTW) di NTT.
"Kita harapkan adanya persaingan yang sehat di antara sesama maskapai penerbangan yang memiliki niat baik untuk melayani rute penerbangan domestik di NTT," kata Gubernur Lebu Raya.
(T.L003/C001)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
