
Pembangunan Bandara Baru Toraja Dimulai

Makassar (ANTARA News) - Pembangunan bandar udara baru berlokasi di Desa Buntu Kunik, Kecamatan Mangkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mulai dilaksanakan.
"Pembangunan sementara berjalan, persoalan tanah sudah beras," kata anggota Komisi D DPRD Sulsel asal Tana Toraja, Alex Palinggi, saat dihubungi via telepon seluler dari Makassar, Selasa.
Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Sulsel sendiri, telah menyelesaikan master plan, demikian juga dengan desain detail engineering sisi darat dan udara pada 2010.
Kepala Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Perhubungan Kementrian Perhubungan, Hanggoro Budiwiryaman saat menghadiri Rakor Pariwisata se Sulawesi dan Bali akhir Desember 2010 di Toraja, menjamin pembangunan bandara tersebut tuntas 2014.
"Untuk pembangunan bandara perintis dengan panjang landasan pacu 1.200 meter bisa selesai dalam 3-4 tahun, dengan catatan bupati melaksanakan apa yang disampaikan gubernur," katanya.
Ia yakin Kemhub mampu menuntaskan pembangunan Bandara Buntu Kunik melalui dana APBN sekitar Rp50 miliar sampai Rp100 miliar yang akan dikucurkan selama tiga tahun berturut-turut, jika pada 2011 Pemkab Toraja mampu menuntaskan membebaskan lahannya.
Ia juga mengemukakan, keberadaan bandara baru di Toraja mutlak harus ada demi mendukung Sulsel sebagai satu dari 10 provinsi yang masuk dalam destinasi pengembangan pariwisata nasional 2011 yang meliputi Sultra, Jabar, Riau, Maluku, NTT, NTB, Papua dan Papua Barat.
"Untuk mendukung program nasional 10 destinasi daerah wisata, harus didukung oleh sarana transportasi. Yang paling cepat adalah pembangunan bandara, karena kalau jalan darat sangat lama, untuk ke sini ada 300 km lebih", ujarnya.
Bandara baru ini nantinya mampu didarati pesawat jenis ATR berkapasitas 60 hingga 70 penumpang, jauh lebih berbobot dibanding Bandara Pongtiku yang sekarang beroperasi, hanya bisa menampung pesawat jenis Cassa dengan jumlah penumpang 20 orang. (T.KR-AAT/M019)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
