Logo Header Antaranews Makassar

Pola Seleksi Beasiswa S3 Sulsel harus Ketat

Kamis, 23 Juni 2011 21:24 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Dr Jasruddin mengatakan, pola seleksi penerima beasiswa pendidikan ke luar negeri S2 dan S3 dari Pemprov Sulawesi Selatan harus ketat agar hasilnya maksimal.

Selain itu, beasiswa tersebut harus tepat sasaran yakni diberikan sesuai disiplin ilmu yang diinginkan karena dibutuhkan untuk memacu perkembangan daerah Sulsel di masa akan datang.

Hal itu dikemukakan Jasruddin usai menjadi motivator bagi penerima beaiswa perusahaan tambang nikel PT Inco di Makassar, Kamis.

PT Inco tahun 2011 memberikan bea siswa dari SD sampai S2 sebanyak 496 orang dengan nilai Rp1,76 miliar. Khusus penyerahan di Makassar untuk 207 orang penerima beasiswa dengan jumlah Rp985,5 juta, yang terdiri dari 32 diploma, 166 S1 dan sembilan orang S2. Penyerahan di Sorowako (lokasi tambang) untuk 206 orang bernilai Rp402,93 juta dan penyerahan di Palopo untuk 83 orang dengan nilai Rp373,5 juta.

Jasruddin mengungkapkan, beberapa penerima beasiswa ke luar negeri dari Pemprov Sulsel, sebenarnya tidak lulus di pascasarjana UNM karena IPK tidak memenuhi standar. Selain itu, ada penerima beasiswa pemprov akhirnya harus pindah dari Selandia Baru ke Malaysia karena keterbatasan penguasaan bahasa Inggris.

Keadaan ini memperlihatkan bahwa sistem seleksi penerima beasiswa luar negeri Pemprov Sulsel harus diperbaiki dan terus disempurnakan.

Jadi niat mulia Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo memberikan 1.000 beasiswa S1 dalam negeri dan 100 beasiswa S2 dan S3 keluar negeri tiap tahun harus dibarengi dengan seleksi ketat dan hanya mengirim calon mahasiswa pascasarjana sesuai disiplin ilmu yang dibutuhkan oleh Provinsi Sulsel untuk memacu perkembangannya ke depan dan bukan bersifat umum untuk semua disiplin ilmu.

Sehingga nantinya, bukan hanya banyaknya lulusan pascasarjana luar negeri yang dimiliki Sulsel, melainkan kualitas serta kebutuhan yang diinginkan untuk memacu daerah ini terpenuhi.

Pihak yang berada di sekeliling Gubernur harus peka memikirkan agar niat mulia Gubernur bermanfaat ganda dan bukannya dimanfaatkan untuk keuntungan sendiri antara lain beasiswa diberikan karena faktor nepotisme, ujarnya.

Staf ahli bidang ekonomi Pemprov Sulsel, Asri Pananrang memuji PT Inco yang memberikan beasiswa bagi 496 orang di Sulsel tahun 2011 dengan nilai Rp1,76 miliar, dibandingkan BUMN Pertamina yang merupakan BUMN yang besar di Indonesia yang hanya memberi beasiswa untuk dua penerima S1 di Sulsel, sehingga Gubernur Syahrul Yasin Limpo menolak beasiswa tersebut.

"Kita bangga dengan PT Inco, terutama yang meletakkan konsep/pola pemberian beaiswa untuk anak-anak di Sulsel yang mencakup hampir di semua universitas yang ada di Provinsi ini, dibandingkan BUMN besar seperti Pertamina yang membuat Gubernur kecewa," ucapnya. (T.KR-HK/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026