Logo Header Antaranews Makassar

Akademi Jakarta kenang sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana petang ini

Kamis, 21 Oktober 2021 10:03 WIB
Image Print
Pakar hukum tata negara Refly Harun menyampaikan pendapatnya pada acara Kuliah Kenangan Sutan Takdir Alisjahbana 2017 bertajuk "Dalam Jebakan Politik Elektoral", di Teater Kecil, TIM, Jakarta, Rabu (9/8) malam. Acara Kuliah Kenangan Sutan Takdir Alisyahbana (Ketua Akademi Jakarta pertama) telah diadakan setiap tahun sejak tahun 2009. ANTARA FOTO/Dodo Karundeng/aww/17. (ANTARA FOTO/Dodo Karundeng)

Jakarta (ANTARA) - Akademi Jakarta bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta akan mengenang sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana lewat STA Memorial Lecture yang disampaikan Prof.Dr. Musdah Mulia, Kamis.

Kegiatan ini disiarkan secara langsung dan streaming melalui kanal YouTube pukul 15.30 WIB.

Pada 1968, ketika Akademi Jakarta dikukuhkan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Sutan Takdir Alisjahbana merupakan salah satu anggota Akademi Jakarta bersama dengan Mochtar Lubis, Soedjatmoko, Asrul Sani, Rusli, Popo Iskandar, Mohammad Said Reksohadiprodjo, D. Djajakusuma, dan Affandi.

"Kuliah kenangan ini, selain untuk mengenang dan menghormati STA, juga sebagai keberlanjutan tradisi Akademi Jakarta, dengan menghadirkan pembicara yang mempunyai pemikiran segar tentang kebudayaan. Musdah Mulia akan menyampaikan kuliah bertajuk, 'Penguatan Literasi Agama, Mewujudkan Indonesia Maju'," kata Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma, dalam keterangan resmi, Kamis.

Musdah Mulia dipilih jadi pembicara oleh anggota Akademi Jakarta lewat rapat pleno karena dianggap punya kapasitas dan kompetensi keilmuan yang sesuai dengan semangat dan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana, sekaligus memantik penyegaran pemikiran kebudayaan bagi khalayak.

Perempuan cendekia yang aktif di Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Women Shura Council - New York, ini adalah profesor riset bidang Lektur Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Selain aktif sebagai dosen pasca sarjana di Universitas Islam Negeri Jakarta dan dosen luar biasa di beberapa perguruan tinggi, bersama Gus Dur dan Djohan Effendi dan sejumlah pemuka agama, mendirikan ICRP (Indonesian Conference on Religions for Peace) sebuah organisasi lintas iman yang aktif mempromosikan perdamaian melalui dialog agama. Sejak 2005 dia menjadi Ketua Umum ICRP.

Ia juga dikenal karena "Gagasan Muslimah Reformis," untuk mengedukasi perempuan, agar memiliki sikap kritis, integritas, spiritualitas dan kreativitas yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Sebagai aktivis pergerakan kemanusiaan, ia vokal menyuarakan keadilan, demokrasi, pluralisme dan kesetaraan gender.



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026