
Bulog : Stok Beras di Papua Aman
Selasa, 6 Desember 2011 11:28 WIB

"Untuk tahun ini menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru, stok beras untuk Papua sangat mencukupi," kata Ahmad Kastela, di Jayapura, Selasa.
Dia mengatakan, persediaan beras di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, stok yang tersedia di gudang lebih dari 300 ton.
Sementara stok yang masih ada di gudang Jayapura dan belum di distribusikan ke Wamena sekitar 3.000 ton, masih tersisa 1.600 ton, sehingga persediaan beras di Jayapura cukup.
"Stok untuk Wamena ada 3.000 ton, yang sudah didistribusikan 1.400 ton, tinggal 1.600 ton, sehingga tidak ada masalah. Artinya jika stok di Jayapura mencukupi, semua daerah pasti tersalurkan," ujarnya.
Menurut dia, stok di daerah pegunungan bisa ditambah, menunggu angkutan udara karena menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru pesawat tidak hanya mengangkut beras saja, namun logistik lainnya juga, sehingga Bulog sering menemui kendala.
"Biasanya menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Natal dan Tahun Baru semua pesawat tidak hanya digunakan untuk mengangkut beras saja, sehingga penerbangan tidak hanya fokus untuk mengangkut beras," katanya.
Dia mengatakan, untuk Provinsi Papua dan Papua Barat, stok yang praktis aman itu hanya di Jayapura, Biak, Manokwari dan Sorong.
Sedangkan daerah lain seperti Timika, Serui, Nabire masih menunggu kapal dari Jawa Timur dan Selawesi Selatan.
Sementara untuk Merauke, Kepala Bulog Divre Papua berharap, panen sampai dengan akhir Desember 2011 bisa mencukupi kebutuhan sampai Januari 2012 mendatang.
Ketika menyinggung soal harga, Ahmad Kastela mengatakan, ada perubahan harga buku beras pemerintah, di mana dari semula Rp5 ribu per kilogram, kini menjadi Rp6.285 per kilogram.
"Ini sesuai dengan harga buku pemerintah, atau dengan kata lain harga beli pemerintah kepada Bulog. Tetapi kalau kita operasi pasar harga Rp6.200 untuk luar Jawa, dan kita bisa jual sampai Rp6.500 per kilogram. Kalau di pasar ada yang menjual dibawah harga tersebut, itu cukup baik. Kenaikan harga ini langsung dari Menteri Keuangan," katanya.
Menurut dia, hampir setiap tahun ada kenaikan harga beras, dimana harga ditentukan oleh harga beli, dan itu merupakan harga resmi.
"Untuk Papua dan Papua Barat, harga beras di pasaran masih normal. Ketentuan pemerintah untuk mengukur inflasi atau suatu daerah dinyatakan gejolak harga berasnya tinggi jika harga periode sekarang dibandingkan periode kemarin naik 15 hingga 20 persen," katanya. (T.KR-ALX/K006)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
