Logo Header Antaranews Makassar

"Flu Mexico" tidak Bersumber dari Daging Babi

Senin, 4 Mei 2009 07:47 WIB
Image Print

Kupang (ANTARA Sulsel) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Esthon L Foenay menegaskan, "Flu Mexico" yang mengakibatkan ratusan orang di Mexico City meninggal dunia, bukan bersumber dari daging babi.

"Epidemi 'swine flu' atau yang populer dengan sebutan 'flu babi' itu disebabkan oleh virus Influenza A sub type H1N1 yang menyerang manusia di Mexico City dan Amerika Serikat dan virus itu yang tidak berasal dari daging babi," katanya kepada pers di Kupang, Senin.

Ia mengemukakan hal ini untuk menjawab tingkat keresahan para peternak babi di NTT serta ketakutan masyarakat mengkonsumsi daging babi menyusul penamaan Flu Babi yang berasal dari Mexico City itu.

"Saya harapkan para peternak babi dan para konsumen babi di NTT tidak perlu panik dengan isu tersebut, karena sumbernya bukan berasal dari daging babi," katanya menegaskan.

Dalam keterangan pers yang berlangsung di ruang kerja Wakil Gubernur NTT itu, hadir pula Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr Stefanus Bria Seran, Kepala Dinas Peternakan NTT, Ir Martinus Djawa, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang NTT, Drh Maria Geong, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) NTT, Ir Mech Saba, Ketua Asosiasi Peternakan Babi NTT, Agus Bale serta Yulius Umbu Hunggar dari Balai Karantina Hewan NTT dan sejumlah peternak babi.

Wagub Foenay mengatakan, Flu Mexico itu sudah menyebar di 16 negara, namun sulit untuk menyebar ke wilayah yang beriklim tropis seperti Indonesia, apalagi wilayah NTT dengan suhu udara yang panas ini.

"Ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi, namun kita perlu waspada dengan meningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas manusia di Bandara El Tari Kupang serta pintu perbatasan darat antara NTT dengan Timor Leste di Mota Ain, karena virus tersebut dilaporkan sudah menyebar ke Selandia Baru dan Australia," katanya.

Berdasarkan hasil kajian Badan Kesehatan Dunia (WHO), kata Wagub Foenay, belum ditemukan adanya bukti kuat yang menunjukkan bahwa manusia mendapat infeksi karena kontak langsung dengan babi hidup atau mengkonsumsi daging babi atau produk yang berasal dari babi.

"Saya harapkan para peternak babi di daerah ini tidak perlu resah dengan isu flu tersebut. Beternaklah dengan tenang, namun diharapkan agar para peternak dapat menerapkan cara-cara pemeliharaan yang baik dengan memperhatikan kebersihan kandang serta kesehatan dari ternak babi itu sendiri," ujarnya.

NTT merupakan daerah produsen ternak babi terbesar di Indonesia, dengan tingkat populasi saat ini mencapai 1,5 juta ekor dengan jumlah pemotongan untuk konsumsi atau pun urusan adat istiadat mencapai 650.000 ekor per tahun.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yang juga salah seorang pejabat di Dinas Peternakan NTT, Drh Maria Geong mengatakan, kontribusi daging babi untuk konsumsi masyarakat NTT mencapai lebih dari 21.000 ton atau sekitar 55,2 persen dari tingkat produksi daging di NTT.

Dalam hubungan dengan itu, Wagub NTT Esthon L Foenay minta dinas terkait untuk terus melakukan sosialiasi dan memberikan pemahaman kepada para peternak babi di daerah ini bahwa Flu Mexico tidak bersumber dari daging babi seperti isu yang berkembang selama ini terkait dengan penamaan flu tersebut.

"Flu Mexico diberi nama Flu Babi, tetapi sumbernya bukan dari daging babi, melainkan dari virus Influenza A sub type H1N1 yang menyerangan manusia di Mexico yang mengakibatkan ratusan orang di Mexico City meninggal," tegasnya.
(T.L003/B013)