Logo Header Antaranews Makassar

Perusahaan Perkebunan Sawit Bantah Timbulkan Pemanasan Global

Jumat, 2 Maret 2012 23:29 WIB
Image Print
Dirut PT Unggul Widya Teknologi Lestari, Tjokro Putro Lestari (FOTO ANTARA/Aco Ahmad)

Mamuju (ANTARA News) - Perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Unggul Widya Teknologi Lestari, membantah bahwa perkebunan kelapa sawit menimbulkan dampak terjadinya pemanasan global.

"Tidak benar jika perkebunan kelapa sawit menimbulkan dampak kerusakan lingkungan pemanasan global. Isu ini hanya tudingan negara Amerika Serikat akibat persaingan bisnis antara minyak kedelai dan minyak sawit," kata Direktur Utama PT Unggul Widya Teknologi Lestari, Tjokro Putro Wibowo di Mamuju, Jumat.

Menurutnya, isu yang dilontarkan Amerika Serikat (AS) bahwa perkebunan kelapa sawit dianggap tidak ramah lingkungan motivasinya karena ada kepentingan bisnis.

"Negara AS menolak produk minyak sawit mentah (CPO) yang dinilai melewati batas ambang emisi sehingga tidak ramah lingkungan. Upaya AS menolak CPO agar lebih leluasa melakukan ekspor minyak kedelai salah satu komoditi andalan dari AS sendiri.

Ia mengatakan, perkebunan kelapa sawit sangat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak pemanasan global.

"AS khawatir jika produk minyak sawit dari Indonesia ini akan lebih murah sehingga bisa menggusur minyak kedelai, jagung, dan biji bunga matahari, sebagai bahan baku biodiesel atau biofuel,"ungkapnya.

Saat ini kata dia, persentase konsumsi minyak kedelai terus menurun dan dilampaui minyak sawit. Pada 1980 minyak kedelai mendominasi pasar minyak nabati dengan total 13,4 juta ton (33 persen), pada saat yang sama minyak sawit baru memiliki market sebesar 11 persen dan total produksi 4,5 juta ton.

Namun sejak tahun 2009 situasi terbalik. Minyak sawit menguasai 34 persen market dengan total produksi 45 juta ton, sementara minyak kedelai hanya memiliki pangsa sebesar 27 persen dengan total produksi 35,9 juta ton.

"Kondisi inilah yang memicu AS mencari alasan untuk kemudian menolak produk minyak sawit dari Indonesia,"ucap dia.

Ia mengatakan, perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin berkembang sehingga kelak negara ini menjadi penghasil CPO terbesar di dunia.

"Jadi, tudingan AS terhadap perkebunan kelapa sawit dianggap hanya untuk menyerang komoditi unggulan di Indonesia," pungkasnya. (T.KR-ACO/Y006)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026