Logo Header Antaranews Makassar

DPRD Makassar Duga Harga Cabai Dimainkan

Rabu, 4 April 2012 17:00 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - DPRD Makassar menduga adanya permainan harga di tingkat pengumpul sehingga harga cabai di sejumlah pasar tradisional Makassar, Sulawesi Selatan mencapai Rp30 ribu perkilogram.

"Kami curiga pengumpul memainkan harga sehingga harga cabai melonjak," kata Ketua Komisi C DPRD Makassar Irwan ST, Selasa.

Di sela kunjungan pemantauan harga di pasar tradisional Terong, tutur Irwan, harga cabai sengaja dimainkan pada tingkat distribusi menjelang rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kemudian ditunda Pemerintah selama enam bulan berjalan.

"Momentum rencana kenaikan harga BBM itu yang berpotensi bagi spekulan untuk menaikkan harga-harga termasuk harga cabai," katanya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan fakta dan informasi di lapangan yang dikumpulkan, distribusi cabai setelah tiba di Makassar melalui dua daerah penghasil cabai seperti Malino, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Enrekang kemudian didistribusikan ke Jawa.

"Bukan hanya Makassar tetapi distribusi cabai sampai ke Jawa tepatnya di Yogyakarta dengan harga lebih tinggi. Inilah yang membuat kami curiga ada permainan harga," ungkapnya.

Pihak terkait yakni Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag), kata dia, diminta segera melakukan pengawasan terhadap jaringan distribusi yang diketahui hingga pulau Jawa dan menstabilkan harga di pasar tradisional.

Dari pantauan harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Makassar sebelumnya harga cabai Rp18 ribu perkilogram kemudian merangkak naik Rp25 ribu hingga harga terakhir menembus Rp30 ribu perkilogram.

Tidak hanya itu, harga bawang merah dan putih juga merangkak naik hingga 25 persen dari harga sebelumnya.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Makassar Dedi Hermadi menyatakan, pihaknya akan segera melakukan koordinasi serta berencana akan melakukan Operasi Pasar (OP).

"Tetap kita lakukan pengawasan dan kalau perlu kita lakukan operasi pasar untuk menekan harga," katanya.
(T.KR-DF/N001)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026