
CIA Galang Simpati Dana Kampanye Pasangan IA

"Pendukung IA itu banyak dari rakyat kecil dan mereka tetap mau berkontribusi dan berpartisipasi memberikan sumbangan dana meskipun kecil minimal Rp5.000 untuk membantu kandidatnya berkampanye, "ujar penggagas fundraising Rakyat untuk IA dari CIA, Amal Bakti di Makassar, Rabu.
"Di Jakarta banyak pendukung IA yang mau berpartisipasi. Acara ini akan memfasilitasi mereka untuk menyumbang," paparnya.
Mahasiswa asal Sulsel kini tengah menimba ilmu di Jakarta menuturkan, gerakan ini merupakan bagian dari pembelajaran politik dalam rangka mendorong partisipasi rakyat untuk memenangkan kandidatnya pada pemilihan Gubernur Sulsel 22 Januari 2013.
Selain itu, membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat kecil untuk berpartisipasi, khususnya pendukung IA di Sulsel dengan memberikan konstribusi materi minimal Rp5.000 agar tidak terciptanya budaya Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) ketika pasangan ini memimpin nantinya.
"Kami tidak melihat dari sisi jumlah dan besarannya, tetapi orang kecil pun yang ingin berpartisipasi kita beri ruang untuk menyumbang," ulasnya.
"Kita ingin politik yang partisipatif, bukan politik yang transaksional, dimana kandidat terpilih hanya karena membeli suara rakyat," kata mantan Ketua PB HMI ini.
Mudah-mudahan gerakan ini, kata dia, dapat terbantukan serta diikuti masyarakat Sulsel lainnya. Karena dengan membantu berarti membantu perjuangan untuk kesejahteraan masyarakat.
"Kandidat itu punya kewajiban untuk membina rakyat secara politik dengan proses-proses yang baik dan benar dan itu dibangun dari bawah. Bukan dengan cara-cara intimidatif dan destruktif, sebab itu merupakan cara-cara orde baru," tandasnya.
Pilgub nanti papar Sukmono, untuk kedua kalinya digelar secara langsung oleh rakyat di Sulsel. Idealnya, pelaksanaan Pilgub kali ini lebih baik dari yang sebelumnya. Hal itu penting agar proses demokrasi ini ada kemajuan. Jadi ada proses pembelajaran dari setiap ajang pemilihan.
"Jika pola-polanya tetap sama dengan pilgub sebelumnya, berarti tidak ada kemajuan. Demokrasi kita berarti tidak maju. Dan itu berarti kegagalan parpol dan kegagalan gubernur sebagai pembina politik," tegasnya.
(T.KR-DF/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
