Logo Header Antaranews Makassar

PT Semen Tonasa Menuju "Green Industry"

Selasa, 18 Desember 2012 05:37 WIB
Image Print
PANGKEP, SULSEL - Aktivtas PT Semen Tonasa yang berupaya "menghijaukan" kehidupan di sekitarnya. (FOTO ANTARA/Suriani Mappong)
Makassar (ANTARA News) - Ketika sebuah industri masuk di tengah permukiman dan wilayah aktivitas warga, sudah menjadi hal yang lumrah jika menemukan kontroversi.

Kehadiran industri dinilai dapat membantu pergerakan ekonomi suatu daerah, bahkan masyarakat di sekitar wilayah industri. Namun di sisi lain, juga dapat menjadi penyebab bencana apabila tidak tertangani dengan baik.

PT Semen Tonasa yang hadir di Kabupaten Pangkep sejak 1968, menjadi salah satu ikon kebanggaan Sulawesi Selatan, karena merupakan pabrik semen pertama di wilayah Kawasan Timur Indonesia pada era Orde Baru.

Apapun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pada masa itu, masyarakat hanya wajib mengetahui bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan, sehingga perlu mendapatkan dukungan penuh tanpa syarat.

Kondisi itu kemudian berubah seiring dengan berhembusnya angin reformasi pada 1998 yang ditandai dengan turunnya penguasa era Orde Baru. Era keterbukaan pun dimulai, masyarakat mulai berani menuntut haknya, berani mengkritik dan menyampaikan aspirasinya.

Hal serupa terjadi pada November 2012, ketika para ibu rumah tangga Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel menggelar aksi demo.

Sikap tegas dan keberanian ibu-ibu tidur terlentang di jalan tempat truk berseliweran, baik yang mengangkut material maupun semen kemasan dan curah PT Semen Tonasa, menjadi salah satu bukti kran reformasi mulai terbuka di wilayah kawasan pabrik.

Mereka menuntut "uang debu" seperti yang pernah disebut-sebut oleh penentu kebijakan di daerah itu. Namun masyarakat di wilayah itu mengaku belum pernah mendapatkan uang kompensasi dari aktivitas pabrik, eksplorasi penambangan dan distribusi produk yang dihasilkan.

Menurut salah seorang warga Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel Puang Ago, pihaknya belum mendapatkan "uang debu"seperti yang diinformasikan, padahal rumahnya berada pada wilayah ring satu.

Hal senada dikemukakan warga Desa Balang, Kelurahan Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel D Syam.

"Lahan sawah kami sudah menjadi kawasan pabrik dan rumah kami hanya sekitar setengah kilometer dari pabrik, namun belum pernah mendapat "uang debu" seperti yang diinformasikan," kata Syam.

Bahkan sepulang merantau dan harus menggantikan posisi ayahnya sebagai imam masjid di Biring Ere, belum pernah ada survei tentang kondisi kesehatan warga dari pihak manajemen PT Semen Tonasa.

Dia mengatakan, padahal itu dinilai penting untuk mengetahui kondisi warga terkait dengan pengaruh partikel debu yang cukup mengganggu, khususnya pada musim kemarau karena debu tersebut menutupi perumahan warga dan pepohonan di sekitarya.

"Kalau musim kemarau, warga selalu menutup jendela dan pintu. Itupun debunya masih masuk dan setiap selesai mengepel lantai, tak lama kemudian debunya datang lagi," katanya.

Hanya pada musim hujan, lanjut dia, warga sedikit lega dan bisa duduk bercengkrama di teras rumah, karena partikel debu yang biasanya beterbangan teredam kucuran hujan.

Hal tersebut dibenarkan aktivis lingkungan dari Lembaga Hijau Lestari Celebes (HLC) Musmahendra.

Menurut direktur HLC yang pernah mendampingi warga Biring Ere, program Corporate Social Responsibility (CSR) yang didalamnya termasuk program bina lingkungan perlu didukung dengan data base yang akurat.

Hal tersebut dinilai penting, untuk membantu pihak perusahaan dalam melakukan penjangkauan rumah tangga sasaran dalam merespon dampak yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan yang sudah bergabung dengan PT Semen Gresik itu.

"Mulai dari pendataan dampak kesehatan misalnya berapa orang yang berpenyakit kategori ringan, sedang dan berat sebagai dampak dari polusi, kebisingan, getaran dan sebagainya," katanya.

Mengenai tuntutan "uang debu" dari warga yang berada di ring satu sebagai bagian dari CSR, dia mengganggap, hal itu merupakan suatu kewajaran.

Hanya saja pengakuan warga yang belum pernah mendapatkan, itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut, karena bisa saja ada perwakilan warga sasaran yang menerima, namun tidak diteruskan pada pihak yang berhak menerima.

"Karena itu pihak perusahaan hendaknya memberikan langsung, tanpa perlu melalui perangkat desa atau semacamnya," katanya.

Hal senada dikemukakan anggota Komisi III DPRD Kabupaten Pangkep Haris Gani.
Menurut dia, selama 40 tahun lebih keberadaan PT Semen Tonasa hingga saat ini belum memberikan manfaat signifikan kepada masyarakat Pangkep.

"Masih banyak permasalahan yang belum diselesaikan dan sampai hari ini tidak banyak manfaat yang didapatkan, hanya sumber daya alam (SDA) yang dieksploitasi," katanya.


Tanggung Jawab Sosial


Pada usia ke-44, PT Semen Tonasa terus berbenah diri dan terus berupaya mencapai visi dan misinya khususnya dalam mendorong bertumbuhnya perusahaan, mengutamakan kualitas, efisiensi, ramah lingkungan dan profesionalisme.

Dari sisi kinerja perusahaan, PT Semen Tonasa menargetkan bagi hasil atau "revenue sharing" pada 2012 mencapai Rp3,6 triliun atau naik sekitar 22,2 persen dibanding periode 2011 Rp2,9 triliun.

Menurut Dirut PT Semen Tonasa Andi Unggul Attas pada HUT Tonasa ke-44, target tersebut optimistis dicapai pada akhir tahun ini dengan melihat perkembangan kinerja PT Semen Tonasa sepanjang 2012.

Hal itu tergambar dari total produksi pada Januari - Oktober 2012 sudah mencapai 3,8 juta ton dengan volume penjualan sekitar 3,7 juta ton. Sementara prognosa produksi 2012 tercatat 4,9 juta ton dengan prognosa penjualan 4,7 juta ton.

Sedang prognosa produksi Semen Tonasa pada 2013 diharapkan mencapai 6,5 juta ton dari dukungan pengoperasian pabrik Semen Tonasa V yang direncanakan mulai beroperasi pada 2013. Prognosa produksi itu meningkat sekitar 39 persen dibandingkan produksi 2012.

Khusus "market share" perusahaan semen terbesar di KTI ini, Unggul mengakui, masih pada angka delapan persen secara nasional, namun untuk wilayah KTI mampu mencapai 40 persen, bahkan di daerah tertentu seperti Sulteng dan Sulut tercatat sebesar 80 persen serta Sulsel 70 persen.

Keberhasilan tersebut kemudian diimplementasikan pada kegiatan CSR sebagai bentuk kepedulian perusahaan yang menempati lahan seluas 715 hektare di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel.

Tanggung jawab sosial perusahaan itu melalui empat kegiatan yakni kesehatan masyarakat dan lingkungan yang dikenal dengan istilah Program Sehat Tonasa, bidang pendidikan (Cerdas Tonasa), Ekonomi (Bina Mitra Tonasa) dan lingkungan (Program Desa Mandiri Tonasa).

Untuk dana kemitraan, PT Semen Tonasa telah menyalurkan anggaran sebesar Rp5,8 miliar untuk 557 unit usaha pada Januari - Oktober 2012. Sedang tanggung jawab sosial lingkungan sebanyak Rp4,7 miliar untuk pendidikan dan pengembangan lingkungan yang dikerjasamakan dengan beberapa kelompok desa.

Hal itu hanya sebagian dari implementasi tanggung jawab sosial perusahaan. Sementara realisasi pengucuran dana CSR sepanjang Januari - September 2012 mencapai Rp13,4 miliar dari target 2012 yakni Rp19 miliar.

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dana CSR 2011 yang tercatat hanya Rp12 miliar. Ke depan, dari kebijakan pengalokasian dana CSR, sekitar 60 persen diserahkan kepada pihak Pemkab Pangkep untuk mengoptimalkan pengjangkau sasaran, setelah sebelumnya hanya menyerahkan dana CSR sekitar 40 - 50 persen pada Pemkab Pangkep.

Sementara itu, berdasarkan data PT Semen Tonasa diketahui, total dana CSR yang dikeluarkan sejak 2008 hingga 2012 mencapai Rp36 miliar.

Menanggapi implementasi program CSR tersebut, salah seorang penerima dana kemitraan Rasdiana mengaku, menerima bantuan modal usaha menjahit sebesar Rp4 juta dengan cicilan Rp188 ribu per bulan selama dua tahun.

"Kami sangat bersyukur mendapatkan dana itu, meskipun tidak mudah mendapatkannya, karena harus melibatkan orang luar padahal kami adalah penduduk asli," kata warga Desa Balang, Kelurahan Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel.

Dia mengatakan, pengusaha kecil masih kesulitan mengakses dana kemitraan dari PT Semen Tonasa, karena modal usaha diatas Rp4 miliar harus memiliki agunan.

Dengan demikian, pengusaha kelas menengah ke atas yang memiliki agunanlah yang memiliki peluang besar untuk mendapatkan dana CSR. Sementara pengusaha kecil harus melalui birokrasi yang cukup panjang melewati perangkat desa hingga ke pihak perusahaan.


"Green Industry"


PT Semen Tonasa yang sudah melampaui empat dekade, berupaya mencapai salah satu misinya yakni ramah lingkungan. Salah satu upaya itu melalui komitmen penerapan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 versi 2004.

Selain itu, perusahaan BUMN ini juga telah meraih sertifikat sistem manajemen lingkungan ISO 14001 dari SGS Yarsley Intermational Sertification Services Limited dan manajemen mutu berupa sertifikat ISO 9002 pada 1996.

Persoalan lingkungan sebagian sudah diminimalisasi melalui program CSR. Termasuk berupaya menciptakan "green industry" atau industri hijau dengan meniru induknya PT Semen Gresik, Tbk.

Menurut pemerhati lingkungan, Musmahendra, pengelolaan lingkungan merupakan pilar yang sangat penting dalam eksistensi sebuah perusahaan seperti PT Semen Tonasa yang memiliki semboyan "kuat, tangguh dan terpercaya".

"Karena itu, PT Semen Tonasa harus secara berkala melakukan pemantauan terhadap dampak lingkungan, maupun eksesnya terhadap masyarakat setempat," katanya.

Selain itu, lanjut dia, perusahaan harus memiliki mesin daur ulang untuk pengelolaan sampah secara modern menjadi energi alternatif seperti yang telah dilakukan PT Semen Gresik, karena hal tersebut dinilai dapat menekan dampak negatif dari aktivitas perusahaan.

Yang jelas, upaya untuk mendapatkan predikat "green industry" bagi PT Semen Tonasa memang tidaklah mudah dan tidak cukup dengan aksi penanaman pohon saja di sekitar kawasan industri.

Keseriusan dan komitmen yang tinggi merupakan syarat utama, sehingga apa yang telah dirintis perusahaan semen termegah di KTI ini untuk menyeimbangkan kepentingan perusahaan, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, tidak berjalan di tempat.

Semua upaya yang dijabarkan melalui program bina lingkungan dalam kurun waktu 44 tahun, menjadi harapan bersama dalam mewujudkan PT Semen Tonasa menjadi "green industry" yang kelak turut "menghijaukan" kehidupan masyarakat di sekitarnya dan tidak menuai keluhan lagi. (S036/Z003)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026