
Nilai Tukar Petani Sulbar Naik 0,14 Persen

"Hasil pemantauan harga konsumen perdesaan menunjukkan terjadinya inflasi perdesaan di Sulbar pada Juni 2013 sebesar 0,25 persen," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulbar, Drs.Syihabuddin di Mamuju, Senin.
Mamuju (ANTARA Sulbar) - Badan Pusat Statistik menyebutkan, perkembangan Nilai Tukar Petani atau NTP di Sulawesi Barat, pada Juni 2013 mencapai angka 105,04 atau naik 0,14 persen dibandingkan NTP Mei 2013 sebesar 104,89.
"Hasil pemantauan harga konsumen perdesaan menunjukkan terjadinya inflasi perdesaan di Sulbar pada Juni 2013 sebesar 0,25 persen," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulbar, Drs.Syihabuddin di Mamuju, Senin.
Menurutnya, secara umum terjadinya inflasi di Sulbar dipicu oleh naiknya indeks harga pada semua kelompok pengeluaran yakni kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,31 persen, kelompok pengeluaran makanan jadi sebesar 0,22 persen, kelompok pengeluaran perumahan 0,11 persen.
Kemudian kata dia, kelompok pengeluaran sandang 0,06 persen, kelompok pengeluaran kesehatan 0,22 persen, kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,16 persen dan kelompok pengeluaran transportasi dan komunikasi 0,36 persen.
"Empat kelompok pengeluaran inilah yang memicu terjadinya inflasi di Sulbar," katanya.
Syihabuddin menyampaikan, inflasi di daerah pedesaan terjadi di 26 provinsi dan yang tertingg terjadi di Jawa Barat sebesar 1,26 persen dan terendah terdapat di Sumatera Utara sebesar 0,05 persen.
Sedangkan enam provinsi yang mengalami deflasi perdesaan tertinggi terjadi di Nusa Tenggara Timur -0,28 persen dan terendah di Kalimantan Selatan -0,02 persen.
"Daerah Sulbar mengalami inflasi sebesar 0,29 persen atau menempati urutan ke 17 dari 26 provinsi yang mengalami inflasi perdesaan. Untuk skala nasional, NTP pada Juni 2013 sebesar 105,28 dan mengalami inflasi perdesaan 0,59 persen," jelasnya. Y Alfrin
Pewarta : Aco Ahmad
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
